Rabu, 27 November 2024

Penjelasan Lengkap Para Mujaddid

    Ada satu perkara yang menarik dari hadits yang pernah disabdakan oleh Rasulullah -shollallahu 'alaihi wa sallam-. Isi haditsnya menyebutkan tentang kemunculan Mujaddid untuk umat Islam pada tiap seratus tahun sekali atau satu abad.

Hadits itu bersumber dari Abu Hurairah -rodhiyallahu 'anhu- yang meriwayatkan sabda Rasulullah -shollallahu 'alaihi wa sallam- sebagai berikut:

إنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهذهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا

Artinya: "Sesungguhnya Allah mengutus kepada umat Islam, setiap seratus tahun, seorang yang memperbarui untuk mereka (interpretasi) ajaran agama mereka." (HR Abu Daud).

Secara etimologi, mujaddid adalah orang yang membawa pembaruan atau pembaharu. Dalam konteks ajaran Islam, mujaddid adalah orang yang memperbaiki kerusakan dalam urusan atau praktik (aplikasi ajaran) agama Islam yang dilakukan oleh umat Islam.

Mujaddid merujuk pada seseorang yang:

1. Memperbarui dan memperkuat ajaran Islam.

2. Mengembalikan umat Islam kepada ajaran yang murni.

3. Mengkritik dan memperbaiki kesalahan dan penyimpangan.

4. Memperjuangkan kesucian dan keaslian ajaran Islam.


Kriteria

Menurut ulama Islam, kriteria mujaddid adalah:

1. Memiliki pengetahuan yang luas tentang Al-Qur'an dan Hadits.

2. Memiliki kemampuan untuk memahami dan menginterpretasikan ajaran Islam.

3. Memiliki integritas dan kesucian moral.

4. Memiliki kemampuan untuk memimpin dan menginspirasi umat Islam.

5. Memiliki visi dan misi untuk memperbarui dan memperkuat ajaran Islam.


Peran

Mujaddid memiliki peran penting dalam:

1. Mengembalikan umat Islam kepada ajaran yang murni.

2. Memperbaiki kesalahan dan penyimpangan.

3. Mengembangkan ilmu pengetahuan dan pemahaman agama.

4. Memperkuat persatuan dan kesatuan umat Islam.

5. Menghadapi tantangan internal dan eksternal.


    Imam Ibnu Hajar al Asqalani, Adz Dzahabi, Ibnu Katsir, Al Munawi, An Nawawi, Ibnu Atsir Al Jazri, dan As Saharanfuri menafsirkan lafal مَنْ (orang-orang) menjadi kata yang bersifat umum baik mencakup perseorangan atau kelompok.

    Dengan kata lain, seorang mujaddid yang dijanjikan dalam hadits bisa saja hanya seorang pribadi dan bisa berupa sebuah kelompok. Bahkan, ada kemungkinan mujaddid yang dimaksud hidup secara terpencar-pencar, bukan dalam satu kelompok yang menyatu.

    Mujaddid tidak membawa agama baru, tetapi mujaddid memiliki tugas membawa metode baru, memperbaiki, membangkitkan, dan membersihkan Islam yang dinodai unsur yang ditafsirkan sebagai bid'ah (mengada-ada), khufarat (kepercayaan yang bukan berasal dari ajaran Islam), dan hal-hal yang menyimpang dari ajaran Al-Qur'an dan Hadits serta memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi. Tujuannya agar ketertinggalan umat Islam dapat diperbaiki. Sebab, mujaddid akan mengikhtiarkan keterpurukan umat Islam kembali pada kemajuan.

    Mujaddid bisa datang dari kalangan ulama, khalifah atau pemimpin pemerintahan, hingga cendekiawan muslim atau ulil albab. Pada dasarnya mereka adalah orang yang berpengaruh besar dalam penegakkan agama Islam di zamannya.

Berkenaan dengan hadits di atas dikutip dari buku Ensiklopedia Islam karangan Hafidz Muftisany, seorang ahli fikih dan tafsir klasik Abu Sahl as Sa'laki pernah menyebutkan, Allah Ta'ala memunculkan tokoh-tokoh atau Mujaddid yang akan mengembalikan Islam pada kemurnian ajarannya dan membendung berbagai penyimpangan.

komentar Imam Suyuthi dalam kitab Ghayah Talkhis al-Murâd fî Fatawa Ibn Ziyâd menyatakan;

    “Hadis ini masyhur dengan riwayat para hafiz penghafal hadis yang mu’tabar. Adapun mujaddid pada abad pertama adalah Khalifah ‘Umar bin Abdul Aziz, pada abad ke-2 adalah Imam Muhammad bin Idris Al-Syafi’i, pada abad ke-3 terdapat Ibnu Suraij atau Imam al-Asy’ari, pada abad ke-4 adalah Al-Shaûlki atau Imam Abu Hamid Al-Isyfirayayni atau al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqillâni, pada abad ke-5 Imam Abu Hamid Al-Ghazali dengan tanpa ada perselisihan mengenai siapa yang menjadi mujaddid ketika itu. Pada abad ke-6 Al-Fakhru Al-Râzi atau imam Al-Râfi’i. 

    Pada abad ke-7 Ibnu Daqîq al-‘Ayd, pada abad ke-8 Al-Bulqiniy atau Zainuddin Al-‘Irâqi atau Ibnu binti Malîq, dan guru kami, Syaikh Al-Thanbadawi mengingkari bahwa Syekh Zakariya adalah mujaddid di abad ke-9, dan Imam Al-Suyuthi menyandarkan predikat mujaddid kepada dirinya sendiri, dan tidak diragukan lagi manfaat yang ditebar oleh Syekh Zakariya lebih banyak dan lebih masyhur, maka beliau adalah seorang mujaddid. 

Selanjutnya, Imam Ibnu Ziyâd berkata: 

    “Dan berdasarkan apa yang kami dapatkan dari guru-guru kami, bahwa mujaddid pada abad ke-10 adalah Syekh Ahmad bin Hajar Al-Khaitami atau Imam Muhammad Al-Ramli, sebagian ulama menguatkan pendapatnya kepada Imam ar-Ramli sebab Imam Ibnu Hajar Al-Khaitami wafat sebelum penghujung seratus tahun. Mujaddid pada abad ke-11 Sayyid Al-Quthb ‘Abdullah bin ‘Alawy Al-Haddad ‘Alawi, dan sesudahnya adalah Al-Quthb Ahmad bin ‘Umar bin Smith ‘Alawi,dan beliau sampai pada awal abad ke-13. 

Sementara memasuki abad ke-15, belum ada ulama yang menerangkan atau menyepakati mujaddid pada abad ke-14 maupun ke-15.


Berikut adalah nama-nama mujaddid Islam menurut penulis dinukil dari berbagai sumber:

1. Mujaddid pada abad pertama yaitu Khalifah 'Umar bin Abdul Aziz (63-101 H/683-720M):

    Disebut juga Khulafaur Rasyidin kelima. Beliau seorang Khalifah Dinasti Umayyah yang terkenal adil, alim, waro’ dan Zuhud. Beliau yang pertama menggagas pengkodifikasian hadits dan yang meniadakan caci maki terhadap Sayyidina Ali bin Abi Thalib -rodhiyallahu 'anhu- pada mimbar Jum’at. Selama pemerintahannya berhasil membebaskan rakyatnya dari kemiskinan sehingga tidak ada yang mau menerima zakat pada masanya.

Mujaddid abad ke-1 Hijriyah (622-719 M) adalah ulama dan pemikir Islam yang memperbarui pemikiran dan gerakan Islam. Berikut beberapa tokoh penting:

Sahabat Nabi

1. Abu Bakar Ash-Shiddiq (573-634): Khalifah pertama Islam.

2. Umar bin Khattab (586-644): Khalifah kedua Islam.

3. Utsman bin Affan (577-656): Khalifah ketiga Islam.

4. Ali bin Abi Thalib (601-661): Khalifah keempat Islam.

5. Abdullah bin Abbas (619-688): Ulama dan muhaddits.


Tabi'in

1. Abdullah bin Maslamah (594-682): Ulama dan muhaddits.

2. Abdullah bin Umar (614-693): Ulama dan muhaddits.

3. Al-Hasan al-Basri (642-728): Ulama dan sufi.

4. Muhammad bin Sirin (653-729): Ulama dan muhaddits.


Menurut versi lain Abad ke-1 Hijriyah (1 H–100 H atau 622 M–719 M) adalah masa awal perkembangan Islam, yang ditandai dengan perjuangan Rasulullah ﷺ, masa Khulafaur Rasyidin, dan era Tabi'in. Pada periode ini, fokus pembaruan adalah pada penyebaran Islam, penegakan akidah, dan pembentukan hukum serta pemerintahan Islam yang sesuai dengan syariat.

Meskipun konsep Mujaddid (pembaru) secara formal baru berkembang kemudian, tokoh-tokoh besar pada abad ini dianggap sebagai pembaru karena peran mereka dalam menjaga dan menghidupkan ajaran Islam.

---

Tokoh-Tokoh Pembaru Abad ke-1 Hijriyah

1. Rasulullah Muhammad ﷺ  (570-632 M)

Asal: Makkah, Arab Saudi.

Kontribusi:

Pembawa risalah Islam yang menegakkan akidah tauhid dan syariat.

Memimpin umat Islam dalam membangun masyarakat yang berdasarkan Al-Qur'an dan sunnah.

Menyebarkan ajaran Islam ke seluruh Jazirah Arab.

Melakukan pembaruan total dari praktik jahiliyah menuju peradaban Islam.

Rasulullah ﷺ adalah pembaru utama sepanjang masa, sehingga semua pembaruan berikutnya berlandaskan ajaran beliau.

---

2. Khulafaur Rasyidin (632–661 M)

Para khalifah yang memimpin umat Islam setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, yaitu:

Abu Bakar Ash-Shiddiq (632–634 M):

Mempertahankan keutuhan umat Islam setelah wafatnya Rasulullah ﷺ.

Melawan kaum murtad dalam Perang Riddah.

Memulai pengumpulan Al-Qur'an dalam bentuk tertulis.

Umar bin Khattab (634–644 M):

Memperluas wilayah Islam ke Persia, Syam, dan Mesir.

Menata sistem administrasi pemerintahan Islam.

Membentuk kalender Hijriyah.

Utsman bin Affan (644–656 M):

Mengkodifikasi Al-Qur'an dalam satu mushaf yang seragam.

Memperkuat persatuan umat melalui distribusi mushaf Al-Qur'an ke berbagai wilayah.

Ali bin Abi Thalib (656–661 M):

Memimpin di masa penuh fitnah dan konflik internal.

Menjaga keutuhan akidah dan syariat di tengah perpecahan.

---

3. Generasi Tabi'in (Setelah 661 M)

Beberapa tokoh besar dari generasi Tabi'in yang berjasa dalam pembaruan:

Hasan Al-Basri (642–728 M):

Ulama besar dari Basrah yang menyerukan zuhud dan akhlak mulia.

Menghidupkan semangat spiritual Islam di tengah kekayaan duniawi yang meluas pada era Dinasti Umayyah.

Said bin Al-Musayyib (637–715 M):

Tokoh terkemuka di Madinah yang dikenal sebagai ulama fikih.

Membimbing umat dalam memahami hukum Islam berdasarkan sunnah Rasulullah ﷺ.

---

Ciri-Ciri Pembaruan Abad ke-1 Hijriyah

1. Penegakan Akidah:

Fokus utama adalah menanamkan tauhid dan menjauhkan umat dari kesyirikan.

2. Kodifikasi Syariat:

Dimulai dengan pengumpulan Al-Qur'an dan penegakan sunnah Rasulullah ﷺ.

3. Penyebaran Islam:

Wilayah Islam meluas ke luar Jazirah Arab melalui dakwah dan ekspansi.

4. Pembangunan Sistem Pemerintahan Islam:

Khulafaur Rasyidin membangun sistem politik, hukum, dan administrasi yang sesuai dengan syariat Islam.

---

Kesimpulan

Abad ke-1 Hijriyah adalah masa pondasi Islam, dipimpin langsung oleh Rasulullah ﷺ dan dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin serta generasi Tabi'in. Mereka memainkan peran sebagai pembaru dalam membangun masyarakat Islam yang kokoh, menjaga keaslian ajaran, dan menyebarkan Islam ke berbagai penjuru dunia.



2. Mujaddid pada abad ke-2 yaitu Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i (150-204 H/767-817 M):

    Beliau pencetus ilmu Ushul Fiqh, pembela sunnah (nashirus sunnah), serta yang menggabungkan madzhab ahli ra’yi (madzhab Hanafi) dan ahli hadits (madzhab Maliki). Pendiri madzhab Syafi’i yang bersumber dari Al-Qur’an. hadits, ijmak dan qiyas serta termasuk mujtahid mutlak. Karya terkenalnya al-Umm (fiqh), ar-Risalah (ushul fiqh).

Mujaddid abad ke-2 Hijriyah (719-816 M) adalah ulama dan pemikir Islam yang memperbarui pemikiran dan gerakan Islam. Berikut beberapa tokoh penting:

Ulama dan Pemikir

1. Imam Abu Hanifah (699-767): Pendiri mazhab Hanafi.

2. Al-Layth bin Sa'd (713-791): Ulama dan muhaddits Mesir.

3. Imam Malik bin Anas (711-795): Pendiri mazhab Maliki.

4. Imam Ahmad bin Hanbal (780-855): Pendiri mazhab Hanbali.


Tokoh Lainnya

1. Khalifah Al-Mansur (714-775): Khalifah Abbasiyah.

2. Al-Mahdi (744-785): Khalifah Abbasiyah.


Menurut versi lain Abad ke-2 Hijriyah (101 H–200 H atau 719 M–816 M) merupakan masa penting dalam perkembangan awal Islam, ditandai dengan kodifikasi hukum Islam, pengembangan ilmu hadis, dan tantangan internal serta eksternal terhadap umat Islam. Pada periode ini, muncul tokoh-tokoh besar yang dianggap sebagai Mujaddid (pembaru), yang memainkan peran penting dalam memurnikan ajaran Islam dan memperkuat akidah serta syariat.

---

Tokoh-Tokoh Mujaddid Abad ke-2 Hijriyah

1. Imam Malik bin Anas (711–795 M)

Asal: Madinah, Arab Saudi.

Kontribusi:

Pendiri Mazhab Maliki, salah satu mazhab fikih utama dalam Islam.

Menulis kitab Al-Muwatta’, salah satu kitab hadis dan fikih tertua yang mengintegrasikan praktik masyarakat Madinah dengan hukum Islam.

Menghidupkan kembali sunnah Rasulullah melalui metodologi fikih yang berbasis pada amal penduduk Madinah.

Berperan dalam menjaga keaslian ajaran Islam di tengah perkembangan zaman.

---

2. Imam Abu Hanifah (699–767 M)

Asal: Kufah, Irak.

Kontribusi:

Pendiri Mazhab Hanafi, mazhab fikih terbesar yang banyak dianut di dunia Islam.

Mengembangkan pendekatan ijtihad berbasis analogi (qiyas) dan pendapat ahli (ra’yu) untuk menyelesaikan masalah-masalah fikih baru.

Dikenal sebagai seorang mujtahid yang memadukan logika dengan syariat Islam.

Pemikirannya memberikan landasan kokoh bagi perkembangan hukum Islam.

---

3. Imam Al-Awza’i (707–774 M)

Asal: Suriah.

Kontribusi:

Pendiri mazhab fikih Al-Awza’i yang berpengaruh besar di kawasan Syam dan Andalusia sebelum digantikan oleh Mazhab Maliki.

Berperan dalam memurnikan akidah dan memperkuat syariat di tengah tantangan ideologis dan sosial.

Menekankan pentingnya sunnah Rasulullah dan tradisi sahabat sebagai landasan utama hukum Islam.

---

4. Imam Sufyan Ats-Tsauri (716–778 M)

Asal: Kufah, Irak.

Kontribusi:

Seorang ahli hadis dan fikih terkemuka yang juga dikenal sebagai seorang sufi.

Menentang keras penyimpangan dalam pemerintahan dan menekankan pentingnya kejujuran dalam pengamalan agama.

Menghidupkan kembali semangat zuhud di tengah umat Islam.

---

5. Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i (767–820 M)

Asal: Gaza, Palestina.

Kontribusi:

Dikenal sebagai "Mujaddid" pada akhir abad ke-2 dan awal abad ke-3 Hijriyah.

Menyusun ilmu ushul fikih dan menulis kitab Ar-Risalah, yang menjadi dasar bagi seluruh mazhab fikih.

Memadukan pendekatan fikih berbasis nash (teks) dan rasionalitas.

---

Perkembangan Islam di Nusantara

Pada abad ke-2 Hijriyah:

Penyebaran Islam di Nusantara masih bersifat sporadis melalui jalur perdagangan.

Para pedagang Muslim dari Timur Tengah, Persia, dan India memainkan peran penting dalam memperkenalkan Islam ke wilayah Asia Tenggara.

---

Kesimpulan

Abad ke-2 Hijriyah merupakan masa pembentukan dasar-dasar keilmuan Islam, terutama dalam bidang fikih dan hadis. Tokoh-tokoh seperti Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Al-Awza’i memainkan peran penting sebagai Mujaddid yang menjaga dan memperkuat ajaran Islam. Kontribusi mereka menjadi fondasi bagi umat Islam hingga saat ini.



3. Mujaddid pada abad ke-3 yaitu Ibnu Suraij (249-306 H/863-918 M):

    Beliau ulama ahli fiqh yang sangat berperan besar dalam penyebaran mazhab Syafi’i. Belajar ilmu fiqh kepada al-Muzani, namun ternyata beliau lebih unggul daripada gurunya itu sendiri. Selain menjadi teladan bagi penegakan keadilan dan moral, Ibnu Suraij juga merupakan ulama yang prodktif menulis. Tidak kurang 400 kitab sudah dihasilkannya. Karya populernya antara lain: Mukhtashar fi Ahlil Fiqh, Ar-Radd ‘ala Muhammad bin al-Hasan, at-Taqrib Bainal Muzani was Syafi’i.

Ada lagi yang menyatakan Mujaddid abad ke-3 yaitu Imam Abu Hasan al-Asy'ari (260-324 H/873-935 M):

    Beliau keturunan sahabat Nabi yang terkenal kesalehan dan kejujurannya, yaitu Abu Musa al-Asy’ari. Pendiri Ahlussunah wal Jama’ah bersama Abu Manshur al-Maturidy. Karyanya yang terkenal adalah al-Ibanah ‘an Ushulid Diyanah, al-Luma’, Maqalat al-Islamiyyin.

Mujaddid abad ke-3 Hijriyah (816-913 M) adalah ulama dan pemikir Islam yang memperbarui pemikiran dan gerakan Islam. Berikut beberapa tokoh penting:

Ulama dan Pemikir

1. Imam Ahmad bin Hanbal (780-855): Pendiri mazhab Hanbali.

2. Imam Al-Bukhari (810-870): Pengumpul hadits, penulis "Shahih Al-Bukhari".

3. Al-Kindi (801-873): Filsuf dan ilmuwan Arab.

4. Imam Muslim (815-875): Pengumpul hadits, penulis "Shahih Muslim".

5. Imam Al-Tirmidzi (824-892): Pengumpul hadits.

6. Al-Tabari (838-923): Ulama, sejarawan dan muhaddits Persia.


Tokoh Lainnya

1. Khalifah Al-Ma'mun (786-833): Khalifah Abbasiyah.

2. Sultan Ahmad al-Mu'tasim (796-842): Khalifah Abbasiyah.


Menurut versi lain Abad ke-3 Hijriyah (201 H–300 H atau 816 M–913 M) merupakan salah satu masa keemasan dalam sejarah Islam, yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan, pengembangan hadis, dan pemurnian ajaran agama. Pada periode ini, muncul tokoh-tokoh besar yang dianggap sebagai Mujaddid (pembaru) yang menghidupkan kembali ajaran Islam, meluruskan penyimpangan, dan memperkuat keilmuan syariat.

---

Tokoh-Tokoh Mujaddid Abad ke-3 Hijriyah

1. Imam Ahmad bin Hanbal (780–855 M)

Asal: Baghdad, Irak.

Kontribusi:

Pendiri Mazhab Hanbali, salah satu mazhab fikih dalam Islam.

Membela akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, terutama dalam fitnah Khalq al-Qur'an yang dipaksakan oleh penguasa Abbasiyah.

Menulis Musnad Ahmad, kitab hadis besar yang menjadi rujukan utama dalam ilmu hadis.

Berperan dalam menjaga kemurnian ajaran Islam di tengah tekanan politik dan ideologi yang menyimpang.

---

2. Imam Asy-Syafi'i (767–820 M)

Asal: Gaza, Palestina.

Kontribusi:

Pendiri Mazhab Syafi'i, salah satu mazhab fikih yang tersebar luas di dunia Islam.

Mengembangkan ilmu ushul fikih melalui kitabnya, Ar-Risalah, yang menjadi dasar dalam memahami hukum Islam.

Memadukan pendekatan ahlul ra'yi (berdasarkan logika) dan ahlul hadis (berdasarkan teks) dalam hukum Islam.

Dikenal sebagai "Mujaddid" pada permulaan abad ke-3 Hijriyah karena pemikirannya yang revolusioner dalam fikih.

---

3. Imam Al-Bukhari (810–870 M)

Asal: Bukhara, Uzbekistan.

Kontribusi:

Penyusun kitab Sahih Al-Bukhari, yang dianggap kitab hadis paling sahih dalam Islam.

Mengumpulkan, memverifikasi, dan menyusun hadis-hadis berdasarkan kriteria yang sangat ketat.

Karyanya menjadi rujukan utama dalam ilmu hadis dan inspirasi bagi generasi ulama berikutnya.

---

4. Imam Muslim (821–875 M)

Asal: Naysabur, Persia.

Kontribusi:

Penyusun kitab Sahih Muslim, kitab hadis kedua setelah Sahih Al-Bukhari.

Menyusun hadis dengan sistematika yang jelas, sehingga memudahkan para ulama dan pelajar dalam mempelajarinya.

Bersama Imam Al-Bukhari, ia dianggap sebagai peletak dasar ilmu hadis yang kokoh.

---

5. Imam At-Tirmidzi (824–892 M)

Asal: Tirmidz, Uzbekistan.

Kontribusi:

Menulis kitab Sunan At-Tirmidzi, salah satu kitab hadis penting dalam Islam.

Mengembangkan klasifikasi hadis berdasarkan tingkatannya (sahih, hasan, dhaif).

Karyanya membantu umat Islam memahami hadis dengan lebih baik.

---

Perkembangan Islam di Nusantara

Pada abad ke-3 Hijriyah:

Islam mulai mendapatkan pijakan awal di Nusantara melalui jalur perdagangan.

Para pedagang Muslim dari Arab, Persia, dan Gujarat memainkan peran penting dalam menyebarkan ajaran Islam di Asia Tenggara.

---

Kesimpulan

Abad ke-3 Hijriyah merupakan masa kejayaan para ulama besar yang membawa pembaruan dalam berbagai bidang ilmu Islam. Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Asy-Syafi'i, Imam Al-Bukhari, dan Imam Muslim adalah tokoh-tokoh utama yang menjaga dan memperkuat keilmuan Islam. Mereka diakui sebagai Mujaddid karena kontribusi besar mereka dalam memurnikan akidah, hadis, dan hukum Islam.



4. Mujaddid pada abad ke-4 yaitu Imam Abu Hamid Al-Isyfirayayni (wafat 406 H) atau Imam Sahl bin Abi Sahl As-Sho'luqi, 

Dan ada yang menyatakan Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqillâni (330-403 H /942-1013 M):

    Seorang ulama yang dikenal keluasan ilmunya, zuhud dan waro’. Beliau ahli teologi dan ahli hadits, pencipta konsep “ikhtiar” dalam paham Aswaja bahkan sangat berjasa mempopulerkan faham Aswaja. Karya monumentalnya : al-Inshaf, I’jazul Qur’an, al-Ibanah fi Ibthal Madzhab Ahlil Kfri wad Dholal, Risalah al-Hurrah, dan lain-lain.

Mujaddid abad ke-4 Hijriyah (913-1009 M) adalah ulama dan pemikir Islam yang memperbarui pemikiran dan gerakan Islam. Berikut beberapa tokoh penting:

Ulama dan Pemikir

1. Ibn al-Farabi (870-950): Filsuf dan ilmuwan Turki.

2. Al-Mas'udi (896-956): Sejarawan dan geografer Irak.


Tokoh Lainnya

1. Amir Abd al-Rahman III (889-961): Penguasa Cordoba, Spanyol.

2. Al-Mu'izz li-Din Allah (932-975): Khalifah Fatimiyah.

3. Sultan Mahmud dari Ghazni (971-1030): Sultan Afghanistan.


Menurut versi lain Abad ke-4 Hijriyah (301 H–400 H atau 913 M–1010 M) merupakan periode perkembangan pesat dalam bidang ilmu pengetahuan, filsafat, dan keislaman. Masa ini ditandai dengan tantangan besar seperti munculnya perpecahan politik di dunia Islam dan berbagai aliran pemikiran yang menyimpang. Namun, tokoh-tokoh besar yang dianggap sebagai Mujaddid (pembaru) muncul untuk memperkuat akidah, memurnikan ajaran Islam, dan menghidupkan kembali semangat keilmuan.

---

Tokoh-Tokoh Mujaddid Abad ke-4 Hijriyah

1. Imam Abu Hasan Al-Asy'ari (873–936 M)

Asal: Basrah, Irak.

Kontribusi:

Pendiri madzhab akidah Asy'ariyah yang membela akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Mengoreksi pandangan kelompok Mu'tazilah setelah sebelumnya menjadi bagian dari mereka.

Karya-karyanya seperti Al-Ibanah dan Maqalat al-Islamiyyin menjelaskan keyakinan Islam yang benar.

Berperan besar dalam memurnikan akidah Islam dan meluruskan penyimpangan pemikiran.

---

2. Imam Al-Maturidi (853–944 M)

Asal: Samarkand (Uzbekistan).

Kontribusi:

Pendiri madzhab akidah Maturidiyah, yang menjadi rujukan utama umat Islam di Asia Tengah.

Menulis karya-karya seperti Kitab at-Tauhid, yang memperkuat keyakinan Islam berdasarkan dalil rasional dan tekstual.

Membela akidah Ahlus Sunnah dari pengaruh pemikiran Mu'tazilah dan kelompok-kelompok sesat lainnya.

---

3. Imam An-Nasai (829–915 M)

Asal: Nasa, Turkmenistan.

Kontribusi:

Seorang ahli hadis yang menulis kitab Sunan An-Nasai, salah satu kitab hadis utama dalam Islam.

Menghidupkan kembali kajian hadis di masa ketika hadis-hadis lemah dan palsu mulai tersebar.

Menjadi rujukan penting dalam ilmu hadis dan keilmuan Islam.

---

4. Al-Farabi (872–950 M)

Asal: Farab (Kazakhstan modern).

Kontribusi:

Filsuf Muslim yang dikenal sebagai "Guru Kedua" setelah Aristoteles.

Menulis karya-karya yang mengintegrasikan filsafat dengan nilai-nilai Islam, seperti Al-Madinah Al-Fadhilah.

Memperkuat pemikiran Islam melalui pendekatan logika dan filsafat yang sejalan dengan syariat.

---

5. Abu Mansur Al-Baghdadi (980–1037 M)

Asal: Baghdad, Irak.

Kontribusi:

Seorang ulama besar yang menulis tentang akidah dan kalam, seperti Al-Farq bayna Al-Firaq.

Menjelaskan perbedaan antara Ahlus Sunnah dan kelompok-kelompok menyimpang secara ilmiah.

Membela akidah Islam dengan cara yang logis dan sistematis.

---

Perkembangan Islam di Nusantara

Pada abad ke-4 Hijriyah:

Islam mulai menyebar ke Nusantara, terutama melalui pedagang Muslim dari Gujarat, Persia, dan Arab.

Dakwah Islam dilakukan secara damai dengan pendekatan budaya, perdagangan, dan pendidikan.

---

Kesimpulan

Abad ke-4 Hijriyah merupakan masa kebangkitan akidah dan ilmu pengetahuan Islam. Tokoh-tokoh seperti Imam Abu Hasan Al-Asy'ari, Al-Maturidi, dan An-Nasai memainkan peran besar dalam memurnikan akidah, menghidupkan ilmu hadis, dan mengembangkan filsafat yang sesuai dengan ajaran Islam. Mereka diakui sebagai Mujaddid karena kontribusinya yang besar terhadap perkembangan dan pelestarian ajaran Islam.



5. Mujaddid pada abad ke-5 yaitu Imam Abu Hamid Al-Ghazali (450-505 H/1058-1111 M): 

    Beliau Ahli tasawuf, ushuluddin/tauhid, filsafat, fiqh dan Ushul fiqh. Digelari Hujjatul Islam karena jasanya memberikan argumen atau hujjah ajaran Islam baik secara akal maupun nash ayat dan hadits. Orang Barat menganggap nya sebagai lautan ilmu yang tak bertepi. Beliau dinilai berhasil dalam memadukan antara ajaran fiqh dan tasawuf, sehingga ibadah tidak semata sekedar formalitas, namun terhiasi oleh adab-adab beribadahnya. Karya monumentalnya adalah Ihya Ulumiddin. Dan masih banyak karya tulis lainnya yang bila dibandingkan dengan usianya yang relatif muda, 55 tahun, maka diperkirakan beliau mengarang kitab sebanyak 64 halaman/hari.

Mujaddid abad ke-5 Hijriyah (1009-1107 M) adalah ulama dan pemikir Islam yang memperbarui pemikiran dan gerakan Islam. Berikut beberapa tokoh penting:

Ulama dan Pemikir

1. Al-Mawardi (974-1058): Ulama dan politikus Irak.

2. Ibn Abd al-Barr (978-1064): Ulama dan muhaddits Spanyol-Arab.

3. Ibn Hazm (994-1064): Ulama dan filsuf Spanyol-Arab.

4. Al-Qushayri (375-465 H/ 986-1072 M): Sufi dan ulama Persia.

5. Al-Juwayni (1028-1085): Ulama dan teolog Persia. 


Tokoh Lainnya

1. Sultan Alp Arslan (1029-1072): Sultan Seljuk Turki.

2. Nizam al-Mulk (1018-1092): Politikus dan penulis Persia.


Menurut versi lain Abad ke-5 Hijriyah (401 H–500 H atau 1010 M–1106 M) merupakan masa penting dalam sejarah Islam, yang ditandai dengan tantangan besar seperti munculnya aliran-aliran sesat, konflik politik di berbagai wilayah, dan kebutuhan mendesak untuk memperkuat akidah dan ilmu pengetahuan Islam. Pada periode ini, muncul tokoh-tokoh besar yang dianggap sebagai Mujaddid (pembaru) yang menghidupkan kembali semangat Islam dan meluruskan penyimpangan.

---

Tokoh-Tokoh Mujaddid Abad ke-5 Hijriyah

1. Imam Al-Baqillani (950–1013 M)

Asal: Basrah, Irak.

Kontribusi:

Seorang ulama besar dalam bidang akidah dan kalam dari Mazhab Asy'ari.

Membela akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah dari serangan kelompok Mu'tazilah, Syiah, dan aliran lainnya.

Menulis karya-karya penting seperti Kitab Al-Insaf dan Al-Tamhid.

Dikenal sebagai "Pedang Sunnah" karena keahliannya dalam debat ilmiah untuk mempertahankan Islam.

---

2. Imam Al-Mawardi (972–1058 M)

Asal: Basrah, Irak.

Kontribusi:

Ahli fikih dan pemerintahan yang menulis Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, kitab tentang sistem pemerintahan Islam.

Menekankan pentingnya keadilan dan tata kelola negara berdasarkan syariat.

Menghidupkan kembali kajian-kajian fikih yang relevan dengan kehidupan sosial dan politik umat.

---

3. Imam Al-Haramain Al-Juwaini (1028–1085 M)

Asal: Naysabur, Persia.

Kontribusi:

Guru dari Imam Al-Ghazali dan salah satu ulama terkemuka Mazhab Syafi'i.

Menulis karya monumental seperti Al-Burhan fi Ushul al-Fiqh, yang menjadi rujukan dalam ilmu ushul fikih.

Memperkuat akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah dengan logika dan argumentasi yang kuat.

---

4. Imam Abu Ishaq Asy-Syirazi (1003–1083 M)

Asal: Persia.

Kontribusi:

Seorang ahli fikih Mazhab Syafi'i yang menulis Al-Muhadzdzab dan Al-Luma'.

Berperan dalam memajukan pendidikan Islam di Madrasah Nizamiyah, lembaga pendidikan terkemuka pada masanya.

Menjadi teladan dalam keilmuan, kesederhanaan, dan akhlak mulia.

---

5. Imam Ibn Hazm (994–1064 M)

Asal: Cordoba, Andalusia (Spanyol).

Kontribusi:

Seorang ulama dari Mazhab Zhahiri yang terkenal dengan pendekatan literal dalam memahami Al-Qur'an dan hadis.

Menulis karya monumental seperti Al-Muhalla dan Fasl fi al-Milal wa al-Ahwa wa al-Nihal.

Berperan dalam membela Islam dari pengaruh pemikiran non-Islami di Andalusia.

---

Perkembangan Islam di Nusantara

Pada abad ke-5 Hijriyah:

Islam mulai dikenal di Nusantara melalui jalur perdagangan.

Para pedagang Muslim dari Gujarat, Persia, dan Timur Tengah membawa ajaran Islam ke wilayah ini, terutama di Sumatra dan Jawa.

---

Kesimpulan

Abad ke-5 Hijriyah adalah masa kebangkitan pemikiran Islam dengan tokoh-tokoh besar seperti Imam Al-Mawardi, Al-Haromain Al-Juwaini, dan Ibn Hazm. Mereka diakui sebagai Mujaddid karena peran mereka dalam memperkuat akidah, mengembangkan ilmu fikih, dan membangun sistem pemerintahan yang sesuai dengan Islam. Warisan intelektual dan spiritual mereka terus menjadi rujukan hingga kini.



6. Mujaddid abad ke-6 (dalam masalah batin) yaitu, Syekh Abdul Qodir al-Jaelani (470-561 H/1077-1166 M):

    Beliau dijuluki sebagai Sulthonul Awliya’ (rajanya para kekasih ALLAH). Keturunan Nabi saw dari jalur Hasan bin Ali r.a. Beliau Pendiri tarekat Qodiriyah. Sangat dihormati di kalangan Aswaja. Dikarenakan karomah-karomahnya yang luarbiasa dan kedudukannya yang tinggi di sisi ALLAH, membuat dirinya sering ditawasuli banyak orang untuk hasilnya hajat mereka. Beliau ahli tasawuf, fiqh, tauhid juga ahli tafsir. Karyanya yang terkenal andalah Tafsir al-Jailany. Al-Fathur Robbany, al-Ghunyah li Tholabi Thariqil Haq, Sirrul Asror dan lain-lain.

Ada lagi yang menyatakan Mujaddid pada abad ke-6 yaitu Imam Fakhruddin Al-Râzi (543-606 H/1149-1209 M):

    Beliau seorang ulama sekaligus tabib negeri Persia yang terkenal. Ahli pula dalam bidang tafsir, ilmu Kalam (tauhid), ushul fiqh, nahwu-sharaf, manthiq (logika),dan filsafat. Berbagai gelar yang diterimanya dari publik antara lain Syaikhul Islam, Fakhrul Islam (kebanggaan Islam), Taajul Muhaqqiqin (mahkota para ahli haq), Imamul Mutakallimin (pemimpin ahli tauhid), dan masih banyak gelar lainnya sebagai pengakuan atas kapasitas keilmuannya. Karya-karyanya yang populernya adalah Mafatihul Ghaib, Tafsir al-Fatihah (tafsir), al-Mahshul fi ushulil fiqh (ushul fiqh), Ta’jizul Falasifah (filsafat), Thariqah fil Kalam, az-Zubdah fi Ilmil Kalam (tauhid), al-Hawi (kedokteran), al-Muharar fi Haqaiqin Nahwi (nahwu), dan lain-lain.

Ada lagi yang menyatakan Mujaddid abad ke-6 yaitu Imam Al-Râfi'i (wafat 623 H):  

    Beliau Imam Rafi’i maupun Imam Nawawi keduanya dianggap sebagai “pendekar” ulama madzhab Syafi’i dikarenakan sanggup memecahkan berbagai persoalan baru di tengah masyarakat dengan metode istimbath Imam Syafi’i. Maka jika dalam fiqh ada istilah “Syaikhoni” (dua syekh) maka maksudnya adalah Imam Nawawi dan Imam Rafi’i. Karya populer Imam Rafi’i adalah al-Muharror dan al-Fathul ‘Aziz fi syarhi al-Wajiz, as-Syarhul Kabir, Syarah Musnad as-Syafi’i (fiqh).

Pendapat lain menyebutkan Mujaddid abad ke-6 adalah Imam Nawawi dari Syria (631-676 H):

    Beliau Ahli hadits, fiqh, tasawuf. Terkenal sebagai Mujtahid Murojjih dalam madzhab Syafi’i bersama imam Rafi’i. Karya-karya terkenalnya dalam hadits Al-Minhaj Syarah Shohih Muslim, Riyadhush Sholihin, Al-Arba’in An-Nawawiyah. Sedangkan karya yang terkenal dalam bidang fiqh adalah al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab, Raudhatuth Tholibin, Minhajut Thalibin. Lalu dalam bidang tasawuf, karya terkenalnya adalah al-Adzkar An-Nawawiyah, at-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an.

Mujaddid abad ke-6 Hijriyah (1107-1203 M) adalah ulama dan pemikir Islam yang memperbarui pemikiran dan gerakan Islam. Berikut beberapa tokoh penting:

Ulama dan Pemikir

1. Ibn Rushd (1126-1198): Filsuf dan dokter Spanyol-Arab, pengarang "Komentar atas Karya Aristoteles".

2. Al-Muwaffaq ibn Qudamah (541-620 H/ 1147-1223 M): Ulama, fuqaha dan teolog sufi madzhab hambali di Suriah.

3. Ibn Arabi (560-638 H/ 1165-1240 M): Sufi dan filsuf Spanyol-Arab.


Tokoh Lainnya

1. Sultan Nuruddin Zanki (1118-1174): Sultan Suriah.

2. Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1137-1193): Sultan Mesir dan Suriah.


Menurut versi lain Abad ke-6 Hijriyah (501 H–600 H atau 1107 M–1204 M) adalah periode yang sangat penting dalam sejarah Islam. Pada masa ini, dunia Islam menghadapi tantangan berupa konflik internal, penyimpangan keagamaan, serta ancaman eksternal seperti Perang Salib. Namun, periode ini juga menjadi saksi munculnya para ulama besar dan pemimpin pembaru (Mujaddid) yang berperan dalam menghidupkan kembali semangat Islam, memurnikan akidah, dan memperkuat syariat.

---

Tokoh-Tokoh Mujaddid Abad ke-6 Hijriyah

1. Imam Al-Ghazali (1058–1111 M)

Asal: Persia (Tus, Khurasan).

Kontribusi:

Seorang ulama besar dalam bidang akidah, fikih, dan tasawuf.

Menulis kitab monumental seperti Ihya Ulumuddin, yang mengintegrasikan syariat dan spiritualitas.

Membela Islam dari serangan filosofis yang menyimpang, terutama melalui karyanya Tahafut al-Falasifah.

Menghidupkan kembali pengamalan Islam yang murni di tengah masyarakat yang mengalami krisis keimanan.

---

2. Imam Fakhruddin Ar-Razi (1149–1209 M)

Asal: Persia (Rayy).

Kontribusi:

Seorang ulama dan ahli tafsir yang terkenal dengan karya Mafatih al-Ghaib (Tafsir Ar-Razi).

Memadukan akal dan dalil naqli dalam penafsiran Al-Qur'an.

Berperan dalam meluruskan pemahaman akidah yang menyimpang melalui pendekatan rasional dan teologis.

---

3. Imam Ibn Asakir (1105–1176 M)

Asal: Damaskus, Suriah.

Kontribusi:

Seorang ahli hadis dan sejarah yang menulis kitab Tarikh Dimashq, ensiklopedia sejarah tokoh-tokoh Islam.

Berperan dalam menjaga tradisi hadis dan mendokumentasikan kehidupan para ulama sebagai inspirasi bagi generasi berikutnya.

---

4. Sultan Nuruddin Zanki (1118–1174 M)

Asal: Suriah.

Kontribusi:

Pemimpin yang berperan dalam mempersatukan umat Islam dan melawan Tentara Salib.

Memperbaiki sistem pemerintahan dengan menegakkan syariat Islam.

Membangun infrastruktur keislaman seperti masjid, sekolah, dan rumah sakit, termasuk mendukung para ulama dalam dakwah.

---

5. Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi (1137–1193 M)

Asal: Tikrit, Irak.

Kontribusi:

Memimpin umat Islam merebut kembali Yerusalem dalam Perang Salib Kedua (1187 M).

Menjadi simbol perjuangan Islam yang menginspirasi umat untuk kembali kepada ajaran agama.

Mendukung pendidikan Islam dan memperkuat ukhuwah Islamiyah di wilayah yang ia pimpin.

---

Perkembangan Islam di Nusantara

Pada abad ke-6 Hijriyah, Islam mulai dikenal di Nusantara melalui interaksi dengan pedagang Muslim dari Timur Tengah, Persia, dan Gujarat:

Kerajaan-kerajaan awal seperti Perlak dan Samudera Pasai mulai muncul sebagai pusat Islam di Asia Tenggara.

Dakwah Islam dilakukan secara damai dengan pendekatan budaya.

---

Kesimpulan

Abad ke-6 Hijriyah adalah masa kebangkitan intelektual dan spiritual dalam dunia Islam. Tokoh-tokoh seperti Imam Al-Ghazali, Fakhruddin Ar-Razi, dan Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi memainkan peran penting sebagai pembaru (Mujaddid) yang menghidupkan ajaran Islam di tengah krisis dan tantangan. Kontribusi mereka tetap dikenang hingga saat ini sebagai inspirasi bagi umat Islam.




7. Mujaddid pada abad ke-7 yaitu Imam Ibnu Daqîq Al-'Ayd (625-701 H/1228-1302 M). Beliau ahli hadits, fiqh dan ushul fiqh. Terkenal kedermawanan, kezuhudan dan kewaro’annya. Karyanya yang terkenal adalah Syarah al-‘Umdah, al-Imam fil Ahkam dan Syarah Arba’in An-Nawawiyah.

Mujaddid abad ke-7 Hijriyah (1203-1301 M) adalah ulama dan pemikir Islam yang memperbarui pemikiran dan gerakan Islam. Berikut beberapa tokoh penting:

Ulama dan Pemikir

1. Syekh Sadr al-Din al-Qunawi (1207-1274): Sufi dan filsuf Turki.

2. Syekh Nur al-Din al-Sabuni (1209-1274): Ulama dan sufi Suriah.


Tokoh Lainnya

1. Sultan Baibars (1223-1277): Sultan Mamluk Mesir.

2. Sultan Qalawun (1222-1290): Sultan Mamluk Mesir.

3. Syekh Akmaluddin al-Babarti (1414-1481): Ulama dan sufi Turki.


Menurut versi lain Abad ke-7 Hijriyah berlangsung dari tahun 601 H (1204 M) hingga 700 H (1301 M). Masa ini merupakan periode penuh tantangan bagi dunia Islam, termasuk serangan bangsa Mongol yang menghancurkan Baghdad pada tahun 656 H (1258 M), sekaligus berakhirnya Kekhalifahan Abbasiyah secara de facto. Di tengah situasi ini, muncul ulama dan pemimpin besar yang berperan sebagai Mujaddid (pembaru) untuk menghidupkan kembali semangat keislaman, memurnikan akidah, serta menata kehidupan umat berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah.

---

Tokoh-Tokoh Mujaddid Abad ke-7 Hijriyah:

1. Imam Nawawi (1233–1277 M)

Asal: Nawa, Suriah.

Kontribusi:

Seorang ulama Mazhab Syafi'i yang sangat produktif menulis karya-karya penting seperti Riyadhus Shalihin, Al-Adzkar, dan Syarh Sahih Muslim.

Mendorong umat Islam untuk mengamalkan Islam secara sederhana tetapi mendalam.

Menjadi teladan dalam kesederhanaan, ketakwaan, dan dedikasi terhadap ilmu.

2. Ibnu Taimiyah (1263–1328 M)**

Asal: Harran, Suriah (lahir di akhir abad ke-7, tetapi kontribusinya mulai tampak pada masa ini).

Kontribusi:

Meningkatkan kesadaran umat untuk kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah.

Menentang praktik bid'ah, takhayul, dan penyimpangan dalam keagamaan.

Menulis banyak karya yang menjadi rujukan hingga kini, seperti Al-Aqidah Al-Wasithiyah.

3. Syaikh Al-Muwaffaq Ibn Qudamah Al-Maqdisi (1147–1223 M)

Asal: Palestina.

Kontribusi:

Seorang ahli fikih Mazhab Hanbali yang menulis kitab terkenal Al-Mughni, ensiklopedia fikih yang menjadi referensi penting hingga saat ini.

Berkontribusi dalam memurnikan fikih Islam dari pengaruh-pengaruh yang menyimpang.

4. Sultan Baybars (1223–1277 M)

Asal: Mesir (Kesultanan Mamluk).

Kontribusi:

Membela dunia Islam dari serangan Mongol dan Tentara Salib.

Menghidupkan kembali kekuatan militer dan politik Islam setelah kehancuran Baghdad.

Mendukung pendidikan Islam dan ulama, sehingga memperkuat syariat di wilayah kekuasaannya.

5. Jalaluddin Rumi (1207–1273 M)

Asal: Persia (Konia, Turki modern).

Kontribusi:

Seorang ulama dan sufi terkenal yang mempromosikan cinta ilahi dan penyucian jiwa.

Karya-karyanya seperti Masnawi menjadi pedoman spiritual bagi umat Islam.

Meski pendekatan sufistiknya sering dianggap berbeda, ia tetap berusaha menghidupkan semangat Islam di tengah masyarakat.

---

Kontribusi di Nusantara

Pada abad ke-7 Hijriyah, Islam mulai menyebar lebih luas di Nusantara melalui jalur perdagangan dan dakwah:

Kerajaan Perlak dan Samudera Pasai menjadi pusat penyebaran Islam di Sumatra.

Ulama dari Timur Tengah dan Gujarat berperan aktif dalam menyebarkan Islam di wilayah ini.

---

Kesimpulan

Abad ke-7 Hijriyah adalah masa penuh tantangan, tetapi juga merupakan periode kebangkitan keilmuan dan spiritual. Tokoh-tokoh seperti Imam Nawawi dan Ibnu Qudamah menjadi pilar penting dalam menjaga dan memurnikan ajaran Islam. Di sisi lain, pemimpin seperti Sultan Baybars menunjukkan pentingnya kekuatan politik dan militer untuk melindungi umat Islam dari ancaman eksternal. Mereka semua diakui sebagai Mujaddid karena peran besar mereka dalam membangkitkan kembali ajaran Islam yang murni di tengah gejolak zaman.



8. Mujaddid pada abad ke-8 yaitu Imam SirojuddinAl-Bulqiniy (wafat 805 H) atau Imam Zainuddin Al-

'Iroqiy (725-806 H/1325-1404 M) atau Ibnu binti Malîq.

Ada juga pendapat lain menyebutkan, mujaddidnya adalah Muhammad bin Ali bin Rojab (795 H).         Beliau ulama yang ahli fiqh, hadits, tafsir, tasawuf dan sejarah. Terkenal sangat zuhud, dan hidupnya penuh panutan. Karya-karya populernya antara lain al-Qawaid al-Fiqhiyyah, al-Istikhraj fi ahkamil Kharaj (fiqh), Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Syarah Jami’ at-Tirmidzy (hadits), Tafsir al-Fatihah, al-Isighna’ bil Qur’an (tafsir), adz-Dzailu ‘ala Thobaqotil Hanabilah, Waq’atu Badri, Sirah Abdul Malik bin Umar bin Abdul Aziz (sejarah), Fadhlu ilmis Salaf ‘alal Khalaf, Ahwalu Yaumil Qiyamah (tasawuf).

Ada lagi yang mengatakan mujaddidnya adalah Sirajuddin Umar al-Bulqiny (762-824 H/1361-1421 M), seorang ahli fiqh, hadits dan ulumul Qur’an. Karyanya yang terkenal adalah Mawaqi’ul ‘Ulum fi Mawaqi’in Nujum, al-Ifham bima Waqo’a fi Shohih al-Bukhary minal Ibham, al-Kabair was Shoghoir, Jawabul As’ilah al-Makiyyah, Nakt ‘ala Minhajit Tholibin, dan lain-lain. Keluasan ilmunya diakui oleh ulama besar seperti Ibnu Hajar al-‘Asqolany yang menyatakan bahwa al-Bulqiny adalah salah satu keajaiban dunia dalam kecepatan memahami sesuatu dan kualitas dalam menghafal.

Mujaddid abad ke-8 Hijriyah (1301-1398 M) adalah ulama dan pemikir Islam yang memperbarui pemikiran dan gerakan Islam. Berikut beberapa tokoh penting:

Ulama dan Pemikir

1. Ibn Taymiyyah (1263-1328): Ulama dan reformer Syria, memperjuangkan kesucian ajaran Islam.

2. Ibn Qayyim al-Jawziyyah (1292-1350): Ulama dan filsuf Syria, murid Ibn Taymiyyah.

3. Syekh Abdullah bin As'ad al-Yafi'i (1297-1367): Ulama dan sufi Yaman.

4. Ibn Khaldun (1332-1406): Sejarawan dan filsuf Tunisia, pengarang "Muqaddimah".


Menurut versi lain Abad ke-8 Hijriyah berlangsung dari tahun 701 H (1301 M) hingga 800 H (1397 M). Masa ini ditandai dengan kekuatan-kekuatan baru dalam dunia Islam seperti kebangkitan Kesultanan Utsmaniyah, runtuhnya Baghdad akibat serangan Mongol, dan berbagai tantangan dalam bidang politik dan keagamaan. Dalam situasi tersebut, muncul tokoh-tokoh besar yang berperan sebagai Mujaddid (pembaru), yang menghidupkan kembali semangat Islam, memurnikan akidah, dan mengatasi tantangan zaman.
---
Tokoh-Tokoh Mujaddid Abad ke-8 Hijriyah:
1. Imam Ibnu Taimiyah (1263–1328 M)
Asal: Harran, Suriah.
Kontribusi:
Menghidupkan kembali ajaran tauhid murni dengan menekankan pentingnya kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah.
Menentang takhayul, bid'ah, dan penyimpangan yang berkembang di masyarakat.
Menulis karya-karya penting dalam bidang akidah, fikih, dan politik Islam, seperti Al-Aqidah Al-Wasithiyah.
Pengaruhnya sangat besar, terutama melalui murid-muridnya seperti Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.
2. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah (1292–1350 M)
Asal: Damaskus, Suriah.
Kontribusi:
Melanjutkan dan memperluas pembaruan yang dimulai oleh gurunya, Ibnu Taimiyah.
Menulis karya-karya monumental seperti I'lam Al-Muwaqqi'in dan Madarij As-Salikin, yang menjadi rujukan utama dalam ilmu akidah, fikih, dan tasawuf.
Menekankan pentingnya keseimbangan antara syariat dan spiritualitas dalam Islam.
3. Imam Adz-Dzahabi (1274–1348 M)
Asal: Damaskus, Suriah.
Kontribusi:
Seorang ahli sejarah dan hadis terkenal.
Menulis banyak kitab dalam bidang sejarah Islam, seperti Siyar A'lam An-Nubala' dan Tarikh al-Islam.
Karyanya menghidupkan semangat umat Islam untuk mengenal sejarah mereka dan tokoh-tokoh penting Islam.
4. Imam An-Nawawi (1233–1277 M)**
Asal: Suriah.
Kontribusi:
Meski wafat sedikit sebelum abad ke-8, pemikiran dan karyanya tetap memberikan pengaruh besar pada abad ini.
Menulis kitab-kitab penting seperti Riyadhus Shalihin dan Al-Adzkar.
Mendorong umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui amalan yang sederhana tetapi konsisten.
5. Imam Al-Maqrizi (1364–1442 M)**
Asal: Mesir.
Kontribusi:
Seorang sejarawan dan ahli geografi yang mendokumentasikan kehidupan umat Islam secara detail.
Karya-karyanya memperkuat identitas Islam melalui pemahaman sejarah.
---
Kontribusi di Nusantara
Pada abad ke-8 Hijriyah, Islam mulai berkembang lebih luas di Nusantara:
Kerajaan Samudera Pasai (Aceh) menjadi pusat penyebaran Islam di Asia Tenggara.
Para ulama dari Gujarat dan Timur Tengah memainkan peran penting dalam dakwah Islam di wilayah ini.
---
Kesimpulan
Abad ke-8 Hijriyah adalah masa pembaruan yang ditandai dengan kemunculan ulama besar seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Mereka menjadi simbol perjuangan untuk mengembalikan umat kepada ajaran Islam yang murni, menegakkan akidah tauhid, dan melawan penyimpangan yang terjadi di masyarakat. Warisan intelektual mereka tetap relevan hingga saat ini dan menjadi rujukan bagi umat Islam di berbagai generasi.




9. Mujaddid abad ke-9 Hijriyah (1398-1495 M) adalah ulama dan pemikir Islam yang memperbarui pemikiran dan gerakan Islam. Berikut beberapa tokoh penting:

Ulama dan Pemikir

1. Syekh Sirajuddin al-Sakandari (1360-1433): Ulama dan sufi Mesir.

2.  Syekh Muhammad bin Muhammad al-Bakri (1418-1474): Ulama dan sufi Mesir.

3, Syekh Akmaluddin al-Babarti (1414-1481): Ulama dan sufi Turki.

4. Syekh Abdullah bin Muhammad al-Asqalani (1427-1505): Ulama dan muhaddith Mesir, memperkenalkan konsep "hadits sebagai sumber hukum".

5. Syekh Jalaluddin as-Suyuthi (848-911 H/ 1445-1505 M): Ulama dan muhaddith Mesir, memperkenalkan konsep "ilmu hadits".

6. Syekh Abdullah bin Muhammad al-Haddad (1424-1516): Ulama dan sufi Yaman, memperkenalkan konsep "ilmu tasawuf".

7. Syekh Muhammad bin Muhammad al-Bakri (1448-1517): Ulama dan sufi Mesir, memperkenalkan konsep "tasawuf praktis".

8. Syekh Zakariyya al-Ansari (1420-1520): Ulama dan sufi Mesir, memperkenalkan konsep "ilmu tasawuf".

 

Tokoh Lainnya

1. Sultan Mehmed II (1432-1481): Sultan Utsmaniyah Turki, memperluas wilayah Islam.

 

Menurut versi lain Abad ke-9 Hijriyah berlangsung dari tahun 801 H (1398 M) hingga 900 H (1494 M). Pada masa ini, dunia Islam menghadapi tantangan besar berupa kemunduran politik, seperti jatuhnya Kekhalifahan Abbasiyah, serta berbagai penyimpangan dalam praktik keagamaan. Namun, di sisi lain, ini adalah era pembaruan intelektual dan spiritual yang dipimpin oleh para ulama besar yang dikenal sebagai pembaharu (Mujaddid).

Tokoh-Tokoh Mujaddid Abad ke-9 Hijriyah:

1. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (1372–1449 M)

Asal: Mesir.

Kontribusi:

Seorang ahli hadis terbesar pada masanya, penulis kitab monumental Fath al-Bari, syarah (penjelasan) atas Sahih al-Bukhari.

Menghidupkan kembali studi hadis dengan metode yang ketat dan sistematis.

Berjuang meluruskan penyimpangan dalam praktik keagamaan dengan kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah.

2. Imam As-Suyuti (1445–1505 M)

Asal: Mesir.

Kontribusi:

Seorang ulama ensiklopedis yang menulis lebih dari 600 buku di berbagai bidang, termasuk tafsir, hadis, fikih, dan sejarah.

Membela sunnah Nabi ﷺ dan berusaha memurnikan Islam dari pengaruh yang tidak sahih.

Beberapa pandangannya dipersiapkan di akhir abad ke-9 Hijriyah dan menjadi rujukan penting hingga sekarang.

3. Al-Burhan al-Biqa'i (1406–1480 M)

Asal: Lebanon.

Kontribusi:

Seorang mufasir terkenal yang menulis kitab tafsir Nazm ad-Durar fi Tanasub al-Ayat wa as-Suwar.

Menekankan harmoni dan keterkaitan ayat-ayat Al-Qur'an dalam penafsirannya.

Berperan dalam menghidupkan kembali tradisi tafsir yang mendalam.

4. Al-Maqrizi (1364–1442 M)

Asal: Mesir.

Kontribusi:

Seorang sejarawan terkemuka yang mendokumentasikan sejarah dunia Islam dengan akurat dan terperinci.

Karya-karyanya, seperti Al-Mawaiz wa al-I'tibar fi Dhikr al-Khitat wa al-Athar, menjadi sumber penting untuk memahami peradaban Islam.

5. Nuruddin Ar-Raniri (w. 1658 M)**

Asal: India (kemudian pindah ke Aceh).

Kontribusi:

Meskipun sebagian besar karyanya berlanjut ke abad ke-10 Hijriyah, ia sudah mulai berpengaruh pada abad ke-9 Hijriyah.

Membawa pembaruan keagamaan di Nusantara melalui dakwah dan karya intelektual.

Menulis buku-buku yang meluruskan pemahaman tasawuf.

---

Kontribusi di Nusantara

Pada masa ini, Islam mulai menyebar lebih luas di Nusantara, dengan para ulama seperti Maulana Malik Ibrahim yang menjadi pelopor Islamisasi di Pulau Jawa.

Kesimpulan

Abad ke-9 Hijriyah adalah masa di mana umat Islam menghadapi tantangan internal dan eksternal. Para ulama seperti Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Al-Maqrizi menjadi Mujaddid yang menghidupkan kembali semangat ilmu, studi hadis, dan ajaran Islam yang murni. Kontribusi mereka meninggalkan warisan intelektual yang menjadi rujukan penting hingga saat ini.



 

Mujaddid abad ke-10 Hijriyah (1495-1591 M) adalah ulama dan pemikir Islam yang memperbarui pemikiran dan gerakan Islam. Berikut beberapa tokoh penting:

Ulama dan Pemikir

1. Syekh Abdul Wahhab al-Sya'rani (1493-1565): Ulama dan sufi Mesir, memperkenalkan konsep "tasawuf praktis".

2. Imam Ahmad Ibnu Hajar Al-Khaitami (1503-1566 M/ 909-974 H): Ulama Fuqaha dan Sufi terkemuka dari Mesir.

3. Imam Syamsuddin Ar-Romli (1516-1595 M/ 922-1004 H): Ulama Fuqaha dan Sufi terkemuka dari Palestina.

 

Tokoh Lainnya

1. Sultan Selim I (1467-1520): Sultan Utsmaniyah Turki, memperjuangkan kesucian ajaran Islam.

2. Syekh Muhammad bin Ilyas al-Kabir al-Birgivi (1522-1573): Ulama dan sufi Turki, memperkenalkan konsep "ilmu tasawuf".


Menurut versi lain Abad ke-10 Hijriyah berlangsung dari tahun 901 H (1495 M) hingga 1000 H (1591 M). Pada masa ini, dunia Islam menghadapi transisi besar, seperti kemunduran Dinasti Abbasiyah, kebangkitan kekuatan baru seperti Kesultanan Utsmaniyah, Safawiyah, dan Mughal, serta munculnya tantangan internal berupa penyimpangan dalam pemahaman agama. Beberapa tokoh tampil sebagai pembaharu (Mujaddid) yang berusaha memurnikan Islam dan menghidupkan semangat keagamaan.

Tokoh-Tokoh Mujaddid Abad ke-10 Hijriyah:

1. Imam Jalaluddin As-Suyuthi (1445–1505 M)

Asal: Mesir.

Kontribusi:

Seorang ulama besar yang dikenal atas karya-karyanya dalam tafsir, hadis, dan fikih.

Menulis lebih dari 600 buku, termasuk Tafsir Al-Jalalain dan Al-Itqan fi Ulum al-Quran.

Berperan dalam membela sunnah Nabi ﷺ dan melawan penyimpangan dalam pemahaman agama.

2. Imam Zakariya Al-Ansari (1420–1520 M)

Asal: Mesir.

Kontribusi:

Seorang ulama Mazhab Syafi'i yang memberikan kontribusi besar dalam pembaruan hukum Islam dan pendidikan.

Menulis karya penting dalam bidang fikih dan tasawuf, seperti Fath al-Wahhab dan Ighathat al-Lahfan.

3. Sultan Salim I (1470–1520 M)

Asal: Kesultanan Utsmaniyah.

Kontribusi:

Memimpin ekspansi besar Kesultanan Utsmaniyah, termasuk penaklukan Makkah, Madinah, dan Mesir.

Menghidupkan kembali kekhalifahan Islam di bawah otoritas Utsmaniyah, menjadikannya pemersatu umat Islam.

4. Imam Abu Al-Su'ud Efendi (1490–1574 M)

Asal: Turki Utsmaniyah.

Kontribusi:

Ulama besar Mazhab Hanafi yang menjabat sebagai Mufti Agung Kesultanan Utsmaniyah.

Mengintegrasikan hukum Islam dalam sistem administrasi negara.

Menyusun fatwa-fatwa yang relevan dengan tantangan zaman.

5. Sheikh Ahmad Zarruq (1442–1493 M)

Asal: Maroko.

Kontribusi:

Menghidupkan kembali ajaran tasawuf murni yang sesuai dengan syariat.

Menulis karya-karya penting dalam tasawuf, seperti Qawa'id al-Tasawwuf.

Melawan penyimpangan dalam praktik tasawuf dan menghubungkan spiritualitas dengan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah.

l

Kontribusi Mujaddid di Nusantara

Pada abad ke-10 Hijriyah, Islamisasi di Nusantara juga mengalami perkembangan pesat:

Wali Songo: Di wilayah Nusantara, para wali seperti Sunan Kalijaga, Sunan Ampel, dan Sunan Gunung Jati memainkan peran penting dalam menyebarkan Islam di Pulau Jawa.

Mereka memadukan ajaran Islam dengan budaya lokal untuk mempermudah penerimaan Islam di masyarakat.

Kesimpulan

Abad ke-10 Hijriyah adalah masa penting dalam pembaruan Islam di berbagai wilayah. Tokoh-tokoh seperti Imam Jalaluddin As-Suyuthi dan Sultan Salim I memainkan peran besar dalam memurnikan ajaran Islam, memperkuat pemerintahan Islam, dan menyatukan umat di bawah panji Islam. Mereka diakui sebagai Mujaddid karena kontribusi besar mereka terhadap kebangkitan Islam di zamannya.


 

Mujaddid abad ke-11 Hijriyah (1591-1688 M) adalah ulama dan pemikir Islam yang memperbarui pemikiran dan gerakan Islam. Berikut beberapa tokoh penting:

Ulama dan Pemikir

1. Syekh Imam Ahmad Sirhindi (1564-1624 M): Ulama asal India (Mughal) Pendiri gerakan Mujaddidiyyah, memperkenalkan konsep "tajdid" (pembaruan). Dikenal sebagai Mujaddid Alf Thani (Pembaru Milenium Kedua) karena usahanya memurnikan Islam dari pengaruh non-Islam selama kekuasaan Mughal.

Menentang kebijakan sinkretisme agama oleh Kaisar Akbar yang dikenal dengan "Din-i Ilahi".

Menghidupkan kembali peran syariat dan mendorong penerapan Islam yang lebih murni.

Pendiri Tarekat Naqsyabandiyah Mujaddidiyah yang berpengaruh besar di Asia Selatan.

2. Syekh Abdul Hakim Sialkoti (1581-1656): Murid Syekh Ahmad Sirhindi, memperjuangkan kesucian ajaran Islam.

3. Syekh Muhammad Ma'sum Faruqi (1620-1668): Pemimpin gerakan Mujaddidiyyah, memperkenalkan konsep "tawbah" (pertobatan).

4. Burhanuddin Ibrahim bin Hasan bin Syihabuddin Al Kurani Al Madani Al-Kurdi (1615-1690 M/ 1023-1101 H): Ulama fiqih, tauhid dan tasawuf kota Syahrani.

5. Syekh Syamsuddin Sialkoti (1640-1721): Ulama dan sufi, memperjuangkan kesucian hati.


Tokoh Lainnya

1. Muhammad bin Abd al-Wahhab al-Ba'labakki (1615-1684): Ulama Lebanon, memperjuangkan kesucian ajaran Islam.

2. Sultan Aurangzeb Alamgir (1618-1707): Sultan Mughal India, memperjuangkan kesucian ajaran Islam.

3. Syekh Abdul Ghani al-Nabulsi (1641-1731): Ulama Suriah, memperkenalkan konsep "tasawuf".


Menurut versi lain, Abad ke-11 Hijriyah berlangsung dari tahun 1001 H (1592 M) hingga 1100 H (1689 M). Pada masa ini, umat Islam mengalami tantangan besar dalam bentuk kemerosotan politik, budaya, dan pemahaman keagamaan di berbagai wilayah. Sejumlah tokoh muncul sebagai pembaharu (Mujaddid) yang berupaya memurnikan kembali ajaran Islam dan memperbarui kehidupan umat.

Tokoh-Tokoh Mujaddid Abad ke-11 Hijriyah:

1. Sultan Agung Mataram (1593–1645 M)

Asal: Jawa, Indonesia.

Kontribusi: Menggabungkan nilai-nilai Islam dengan budaya lokal Jawa.

Memperkuat Islamisasi di Pulau Jawa melalui politik, budaya, dan pendidikan.

Berupaya melawan kolonialisme Belanda yang mulai merambah wilayah Nusantara.

2. Syeikh Yusuf Al-Maqassari (1626–1699 M)

Asal: Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia.

Kontribusi: Ulama sufi dan pejuang anti-kolonial yang dikenal dengan ajaran tasawufnya.

Mempromosikan integrasi syariat dan tasawuf dalam kehidupan sehari-hari.

Membawa ajaran Islam ke tingkat yang lebih aplikatif di Nusantara.

3. Imam Muhammad Baqir Al-Majlisi (1627–1699 M)

Asal: Iran.

Kontribusi: Ulama Syiah yang memberikan kontribusi besar dalam memperkuat mazhab Ja'fari melalui karya-karyanya.

Mengumpulkan hadis-hadis Syiah dalam karya monumentalnya, Bihar al-Anwar.

Berperan dalam menghidupkan ajaran Islam di kalangan Syiah pada era Dinasti Safawiyah.

Kesimpulan

Abad ke-11 Hijriyah ditandai dengan upaya pembaruan dalam berbagai aspek kehidupan umat Islam. Tokoh-tokoh seperti Imam Ahmad Sirhindi dan Syeikh Yusuf Al-Maqassari menjadi simbol perjuangan untuk memurnikan ajaran Islam dan menjaga relevansinya di tengah tantangan zaman. Mereka diakui sebagai Mujaddid karena peran besar mereka dalam menghidupkan kembali semangat Islam di wilayah masing-masing.



Mujaddid abad ke-12 Hijriyah (1688-1785 M) adalah ulama dan pemikir Islam yang berperan besar dalam memperbarui pemikiran dan gerakan Islam. Berikut beberapa tokoh penting:

Ulama dan Pemikir

1. Syah Waliullah Ad-Dahlawi (1703–1762 M)

Seorang ulama dari Delhi, India yang memperkenalkan konsep "tajdid" (pembaruan) dan memperjuangkan persatuan umat Islam yang berkontribusi besar dengan mendorong reformasi keagamaan dan sosial, termasuk pembaruan sistem pendidikan Islam dalam reformasi pemikiran Islam. Ia menyerukan pembaruan dalam pemahaman Islam, termasuk pentingnya memahami dan mendorong penerjemahan Al-Qur'an ke bahasa lokal untuk memudahkan pemahaman masyarakat umum.

Pemikirannya berpengaruh besar/ menginspirasi banyak gerakan pembaharuan reformasi Islam di India, termasuk perjuangan melawan kolonialisme. Ia juga berusaha mengintegrasikan antara ajaran tasawuf dengan syariat untuk memurnikan akidah.

2. Muhammad bin Abdul Wahhab (1703–1792 M)

Seorang ulama asal Najd, Arab Saudi, yang memperkenalkan gerakan Wahhabiyah (Wahhabisme). Ia menyerukan dan menekankan pentingnya kembali kepada ajaran tauhid yang murni dan menolak praktik-praktik syirik, memerangi bid'ah, khurafat, serta praktik yang dianggap menyimpang dari Islam.

Gerakannya memiliki pengaruh besar dalam membentuk Kerajaan Arab Saudi modern, dari dukungan keluarga Saud.

3. Sayyid Murtadho Az-Zabidi (1732-1791/wafat 1205 H): Ulama, penulis dan cendikiawan Islam terkemuka dari Yaman.

4. Muhammad Amin al-Suwaydi (1745-1834): Ulama dan politikus Irak yang memperjuangkan kemerdekaan dan persatuan umat Islam.


Menurut versi lain, Abad ke-12 Hijriyah berlangsung dari tahun 1101 H (1689 M) hingga 1200 H (1785 M). Pada masa ini, umat Islam menghadapi tantangan berupa kemunduran kekhalifahan, penyimpangan dalam praktik keagamaan, serta munculnya bid'ah dan takhayul. Beberapa tokoh tampil sebagai pembaharu (Mujaddid), berupaya menghidupkan kembali semangat Islam yang murni berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah.

Tokoh-Tokoh Mujaddid Abad ke-12 Hijriyah

1. Sultan Muhammad Aurangzeb Alamgir (1618–1707 M)

Asal: India (Kekaisaran Mughal).

Kontribusi: Dikenal sebagai penguasa yang berusaha menerapkan syariat Islam dalam pemerintahan.

Menghapuskan pajak-pajak yang bertentangan dengan syariat, seperti jizyah bagi umat Muslim.

Memperkuat semangat keislaman di India pada masa kekuasaan Mughal.

2. Imam Muhammad Hayat As-Sindi (w. 1750 M)

Asal: Madinah, Arab Saudi.

Kontribusi: Guru dari Muhammad bin Abdul Wahhab, yang memengaruhi pemikiran reformasi akidah dan pembaruan agama.

Mendorong penghapusan takhayul dan praktik keagamaan yang tidak sesuai dengan Islam.

3. Ahmad ibn Idris Al-Fasi (1760–1837 M)

Asal: Maroko.

Kontribusi: Seorang ulama sufi yang mendirikan tarekat Idrisiyah, dengan fokus pada pembaruan akidah dan penguatan spiritualitas Islam.

Ia menekankan pentingnya kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah sebagai panduan utama umat Islam.

Kesimpulan

Pada abad ke-12 Hijriyah, pembaruan difokuskan pada penghapusan penyimpangan dalam praktik keagamaan, kebangkitan akidah tauhid, dan penerapan syariat Islam. Tokoh-tokoh seperti Syah Waliullah Ad-Dahlawi dan Muhammad bin Abdul Wahhab memainkan peran penting dalam membangkitkan semangat umat Islam untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni. Mereka diakui sebagai Mujaddid karena upaya mereka dalam meluruskan pemahaman agama dan menghidupkan nilai-nilai Islam.



Mujaddid abad ke-13 Hijriyah (1785-1882 M) adalah ulama dan pemikir Islam yang memperbarui pemikiran dan gerakan Islam. Berikut beberapa tokoh penting:

1. Syekh Abdullah bin Fodio (1754-1828): Pemimpin gerakan Islam Afrika Barat.

2. Abdul Wahhab al-Andalusi (1767-1825): Ulama dan penyair Arab yang memperkenalkan konsep "pembaruan Islam".

3. Syekh Khalid al-Baghdadi (1779-1827): Ulama dan sufi yang memperkenalkan konsep "tasawuf modern".

4. Sayyid Ahmad Khan (1817-1898): Modernisme Islam India.


Menurut versi lain, Abad ke-13 Hijriyah berlangsung dari tahun 1201 H (1786 M) hingga 1300 H (1883 M). Pada masa ini, dunia Islam menghadapi tantangan besar, termasuk kemunduran kekuasaan Islam, kolonialisme, dan kemerosotan pemahaman keagamaan. Beberapa tokoh muncul sebagai pembaharu (Mujaddid) yang berusaha menghidupkan kembali ajaran Islam yang murni dan membangkitkan semangat umat.

Berikut beberapa tokoh yang sering disebut sebagai Mujaddid abad ke-13 Hijriyah:

1. Usman Dan Fodio (1754–1817 M)

Pemimpin pembaruan Islam di Afrika Barat, khususnya di wilayah yang kini menjadi Nigeria. Ia mendirikan Kekhalifahan Sokoto dan mendorong penerapan syariat Islam secara menyeluruh.

Ia juga menentang praktik-praktik keagamaan yang tidak sesuai dengan Islam.

2. Ahmad ibn Idris Al-Fasi (1760–1837 M)

Seorang sufi dan ulama asal Maroko yang menekankan pentingnya kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah.

Ia mendirikan tarekat Idrisiyah, yang menggabungkan ajaran tasawuf dengan pembaruan sosial.

3. Haji Shariatullah (1781–1840 M)

Seorang pembaharu Islam di Bengal (sekarang Bangladesh). Ia memulai gerakan Faraizi yang menekankan pentingnya pelaksanaan kewajiban agama (faraidh) dan menolak pengaruh praktik Hindu dalam kehidupan Muslim.

4. Sayyid Ahmad Barelwi (1786–1831 M)

Seorang ulama dan pemimpin jihad dari India yang menyerukan pembaruan Islam dan perlawanan terhadap penjajahan Inggris.

Ia berusaha menghidupkan kembali semangat Islam melalui penerapan syariat dan perjuangan melawan praktik yang dianggap bid'ah.

5. Imam Shamil (1797–1871 M)

Pemimpin perjuangan di Kaukasus melawan Rusia. Ia memadukan pembaruan Islam dengan jihad melawan penjajahan.

Ia dikenal sebagai tokoh yang menginspirasi umat Islam dalam mempertahankan identitas mereka.

Kesimpulan

Abad ke-13 Hijriyah adalah masa pembaruan di tengah tantangan besar. Tokoh-tokoh tersebut muncul di berbagai wilayah dunia Islam dengan fokus yang berbeda, seperti reformasi akidah, penerapan syariat, dan perlawanan terhadap kolonialisme. Meski kontribusi mereka beragam, semuanya dianggap sebagai pembaharu yang berusaha mengembalikan Islam kepada kemurniannya.



Mujaddid abad ke-14 Hijriyah (1882-1979 M) adalah ulama dan pemikir Islam yang memperbarui pemikiran dan gerakan Islam. Berikut beberapa tokoh penting:

Ulama dan Pemikir

1. Rasyid Ridha (1865-1935): Salafisme modern dan reformasi Islam.

2. Muhammad Iqbal (1877–1938 M)

Penyair dan Pemikir/filsuf asal India yang dikenal sebagai "Penyair Islam" yang memperkenalkan konsep "khudī" (diri). Iqbal menginspirasi umat Islam melalui puisi dan pemikirannya tentang kebangkitan Islam dan pembentukan negara Pakistan

3. Syed Abul A'la Maududi (1903–1979 M)

Pemikir Islam asal India/ Tokoh dari Pakistan yang mendirikan Jamaat-e-Islami. Ia banyak berkontribusi konsep "Islam politik" pada pemikiran politik Islam dan menekankan pentingnya menegakkan negara Islam modern berdasarkan syariat.

4. Malik Bennabi (1905-1973): Pemikir dan penulis Aljazair yang memperkenalkan konsep "civilisasi Islam".

5. Hassan Al-Banna (1906–1949 M)

Pendiri organisasi Ikhwanul Muslimin (Muslim Brotherhood) di Mesir. Ia menyerukan gerakan Islam modern pembaruan dalam praktik keislaman dan penghidupan kembali syariat Islam sebagai solusi atas krisis umat.

6. Sayyid Qutb (1906-1966): Pemikir Ikhwanul Muslimin, konsep "Islam radikal".

7. Mutawalli Asy-Sya'rawi (1911-1998): Ulama Cendikiawan dan penulis Islam terkemuka di Mesir.


Tokoh Gerakan Islam

1. Maulana Abul Kalam Azad (1888-1958): Pemimpin gerakan kemerdekaan India.

2. Allama Muhammad Asad (1900-1992): Pemikir dan diplomat Pakistan.

3. Maulana Syekh Ahmad Kutty (1912-1982): Ulama dan pemikir India.

4. Syekh Muhammad al-Ghazali (1917-1996): Ulama dan pemikir Mesir.

5. Dr. Muhammad Hamidullah (1908-2002): Pemikir dan sejarawan Pakistan.


Menurut versi lain Abad ke-14 Hijriyah dimulai dari tahun 1301 H (1883 M) hingga 1400 H (1980 M). Pada periode ini, umat Islam menghadapi tantangan besar, termasuk kolonialisme, modernisasi, dan kebangkitan pemikiran sekuler. Sejumlah tokoh dianggap sebagai Mujaddid (pembaharu) karena kontribusi mereka dalam membangkitkan semangat Islam dan memperbarui pemahaman agama sesuai kebutuhan zaman.

Berikut beberapa tokoh yang sering disebut sebagai Mujaddid abad ke-14 Hijriyah:

 1. Jamaluddin Al-Afghani (1838–1897 M)

Pemikir dan aktivis politik yang menyerukan perjuangan kemerdekaan dan persatuan dunia Islam melawan kolonialisme Barat. Ia menyebarkan ide-ide pembaharuan Islam di berbagai negara Muslim, termasuk Mesir, Turki, dan India.

2. Syekh Muhammad Abduh (1849–1905 M)

Ulama Mesir yang dikenal sebagai reformis Islam modern atau konsep "modernisme Islam". Memperjuangkan reformasi pendidikan dan hukum Islam. Ia menekankan pentingnya penggunaan akal, pendidikan, dan reformasi sosial untuk membangkitkan umat Islam.

Bersama Jamaluddin Al-Afghani, ia mempelopori gerakan Pan-Islamisme.

3. Imam Hasan Al-Makki dan ulama lokal lainnya

Di berbagai wilayah, seperti Indonesia dan Afrika, ulama lokal seperti KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan KH. Hasyim Asy'ari (pendiri Nahdlatul Ulama) juga dianggap sebagai pembaru lokal yang signifikan.


Kesimpulan

Tidak ada satu nama yang disepakati sebagai Mujaddid tunggal abad ke-14 Hijriyah karena Islam tersebar di berbagai wilayah dengan kebutuhan dan tantangan berbeda. Namun, tokoh-tokoh ini diakui secara luas karena kontribusi mereka dalam membangkitkan kesadaran umat Islam dan memperbarui pemahaman agama di zamannya.



Berikut beberapa tokoh Mujaddid (pembaharu) Islam abad ke-15 Hijriyah (1979-2076 M):

Ulama dan Cendekiawan

1. Syekh Yusuf al-Qaradawi (1926-2022):  Pemikir dan Ulama asal Mesir yang dikenal dengan pendekatan konsep "wasatiyyah" (moderat) dalam fikih dan pemikiran Islam, serta upaya menyelaraskan syariat dengan kebutuhan zaman modern.

2. Syekh Muhammad bin Abd al-Rahman Mustafa al-Azami (1930-2017): Ulama dan muhaddith Arab Saudi, memperjuangkan kesucian ajaran Islam.

3. Muhammad Taqi Misbah Yazdi (1934-2021): Pemikir dan ulama Iran yang memperkenalkan konsep "Islam sebagai sistem kehidupan".

4. Muhammad Shahrur (1936-2019): Pemikir dan ulama Suriah yang memperkenalkan konsep "Islam liberal".

5. Abdurrahman Wahid (1940-2009): Pemikir dan ulama Indonesia yang memperjuangkan pluralisme dan toleransi.

6. Tariq Ramadan (1962-sekarang): Pemikir dan ulama Swiss yang memperkenalkan konsep "Islam Eropa).


Aktivis dan Pemimpin

1. Necmettin Erbakan (1926-2011): Mantan Perdana Menteri Turki yang memperjuangkan nilai-nilai Islam.

2. Muhammad Mahdi Akef (1928-2017): Mantan pemimpin Ikhwanul Muslimin Mesir.

3. Rached Ghannouchi (1941-sekarang): Pemimpin Ennahda Tunisia yang memperjuangkan demokrasi dan hak asasi manusia.

4. Recep Tayyip Erdogan (1954-sekarang): Presiden Turki yang memperjuangkan identitas Islam.


Pemikir dan Penulis

1. Sayyid Hussein Nasr (1933-sekarang): Pemikir dan penulis Iran-Amerika yang memperkenalkan konsep "tradisionalisme Islam".

 

Perlu diingat

Tokoh-tokoh tersebut memiliki pandangan dan kontribusi yang beragam, dan tidak semua memiliki kesepakatan tentang metode dan tujuan pembaruan Islam.

 

Menurut versi lain, Abad ke-15 Hijriyah dimulai pada tahun 1401 H (1981 M) dan berlanjut hingga tahun 1500 H (2077 M). Identifikasi Mujaddid pada abad ini masih menjadi perdebatan di kalangan ulama karena sifatnya yang tidak mutlak dan sering tergantung pada perspektif atau wilayah.

Beberapa tokoh kontemporer yang dianggap membawa pembaruan pada abad ini antara lain:

1. Imam Khomeini

Pemimpin revolusi Iran, yang dianggap oleh sebagian kalangan Syiah sebagai pembaharu dalam pendekatan politik dan spiritualitas Islam.

2. Ahmad Deedat

Dikenal atas kontribusinya dalam bidang dakwah Islam melalui debat antaragama.

3. Dr. Zakir Naik

Aktif dalam dakwah kontemporer dengan metode logis dan ilmiah yang menarik perhatian global.

4. Fethullah Gülen

Pemikir asal Turki yang berfokus pada pendidikan, dialog antaragama, dan penerapan Islam dalam konteks global.


Namun, pengakuan terhadap siapa yang dianggap Mujaddid sering kali subjektif dan berbeda antara satu komunitas Muslim dengan komunitas lainnya.


Sumber

1. Ensiklopedia Islam.

2. Sejarah Islam (Oxford University Press).

3. The Muslim 500 (The Royal Islamic Strategic Studies Centre).

4. Ensiklopedia Britannica.

5. Kitab "Mujaddid" oleh Imam Al-Ghazali.

6. Meta Al dan ChatGPT

Sementara Cendekiawan Muslim Quraish Shihab dalam buku 1001 Soal Keislaman yang patut Anda Ketahui berpendapat, tugas mujaddid sebagai pembaru dibutuhkan mengingat perjalanan sejarah boleh jadi melupakan atau menyalahpahami ajaran agama. Selain itu, masyarakat menuntut adanya interpretasi baru yang tidak menyimpang dari prinsip dan teks-teks keagamaan.

"Sebagian dari apa yang kita namai ajaran agama adalah hasil interpretasi ulama yang tentunya dipengaruhi oleh kondisi sosial masyarakatnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), serta budaya lokal," terang dia.

Untuk itulah, mujaddid berperan untuk mereaktualisasi ajaran. Meski demikian, tidak mudah untuk menetapkan siapa orangnya pada tiap abadnya. Sebab, ada pula kemungkinan mujaddid tidak hanya satu orang melainkan ada beberapa orang dalam satu abad.

Di samping itu, kata Quraish Shihab, versi nama-nama mujaddid dari tiap abadnya pun dapat berbeda-beda. Salah satunya yang disebut Ibnu Katsir dalam Kitab Dala'il an Nubuwwah, mujaddid pada abad pertama Hijriah mencakup empat belas nama tokoh. Tidak hanya satu tokoh tiap abadnya.

Lain lagi dari Imam As Suyuthi yang pernah merinci nama-nama mujaddid dalam potongan syair gubahannya. Lalu, versi lainnya dapat ditemukan dari Nawab Shidiq Hasan Khan yang menulis Kitab Hujaj al Kiramah

Baca artikel detikhikmah, "Hadits Mujaddid yang Muncul Tiap 100 Tahun Sekali, Apa Maksudnya?" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6510504/hadits-mujaddid-yang-muncul-tiap-100-tahun-sekali-apa-maksudnya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
Sementara Cendekiawan Muslim Quraish Shihab dalam buku 1001 Soal Keislaman yang patut Anda Ketahui berpendapat, tugas mujaddid sebagai pembaru dibutuhkan mengingat perjalanan sejarah boleh jadi melupakan atau menyalahpahami ajaran agama. Selain itu, masyarakat menuntut adanya interpretasi baru yang tidak menyimpang dari prinsip dan teks-teks keagamaan.

"Sebagian dari apa yang kita namai ajaran agama adalah hasil interpretasi ulama yang tentunya dipengaruhi oleh kondisi sosial masyarakatnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), serta budaya lokal," terang dia.

Untuk itulah, mujaddid berperan untuk mereaktualisasi ajaran. Meski demikian, tidak mudah untuk menetapkan siapa orangnya pada tiap abadnya. Sebab, ada pula kemungkinan mujaddid tidak hanya satu orang melainkan ada beberapa orang dalam satu abad.

Di samping itu, kata Quraish Shihab, versi nama-nama mujaddid dari tiap abadnya pun dapat berbeda-beda. Salah satunya yang disebut Ibnu Katsir dalam Kitab Dala'il an Nubuwwah, mujaddid pada abad pertama Hijriah mencakup empat belas nama tokoh. Tidak hanya satu tokoh tiap abadnya.

Lain lagi dari Imam As Suyuthi yang pernah merinci nama-nama mujaddid dalam potongan syair gubahannya. Lalu, versi lainnya dapat ditemukan dari Nawab Shidiq Hasan Khan yang menulis Kitab Hujaj al Kiramah.

Baca artikel detikhikmah, "Hadits Mujaddid yang Muncul Tiap 100 Tahun Sekali, Apa Maksudnya?" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6510504/hadits-mujaddid-yang-muncul-tiap-100-tahun-sekali-apa-maksudnya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Baca artikel detikhikmah, "Hadits Mujaddid yang Muncul Tiap 100 Tahun Sekali, Apa Maksudnya?" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6510504/hadits-mujaddid-yang-muncul-tiap-100-tahun-sekali-apa-maksudnya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Baca artikel detikhikmah, "Hadits Mujaddid yang Muncul Tiap 100 Tahun Sekali, Apa Maksudnya?" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6510504/hadits-mujaddid-yang-muncul-tiap-100-tahun-sekali-
Sementara Cendekiawan Muslim Quraish Shihab dalam buku 1001 Soal Keislaman yang patut Anda Ketahui berpendapat, tugas mujaddid sebagai pembaru dibutuhkan mengingat perjalanan sejarah boleh jadi melupakan atau menyalahpahami ajaran agama. Selain itu, masyarakat menuntut adanya interpretasi baru yang tidak menyimpang dari prinsip dan teks-teks keagamaan.

"Sebagian dari apa yang kita namai ajaran agama adalah hasil interpretasi ulama yang tentunya dipengaruhi oleh kondisi sosial masyarakatnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), serta budaya lokal," terang dia.

Untuk itulah, mujaddid berperan untuk mereaktualisasi ajaran. Meski demikian, tidak mudah untuk menetapkan siapa orangnya pada tiap abadnya. Sebab, ada pula kemungkinan mujaddid tidak hanya satu orang melainkan ada beberapa orang dalam satu abad.

Di samping itu, kata Quraish Shihab, versi nama-nama mujaddid dari tiap abadnya pun dapat berbeda-beda. Salah satunya yang disebut Ibnu Katsir dalam Kitab Dala'il an Nubuwwah, mujaddid pada abad pertama Hijriah mencakup empat belas nama tokoh. Tidak hanya satu tokoh tiap abadnya.

Lain lagi dari Imam As Suyuthi yang pernah merinci nama-nama mujaddid dalam potongan syair gubahannya. Lalu, versi lainnya dapat ditemukan dari Nawab Shidiq Hasan Khan yang menulis Kitab Hujaj al Kiramah

Baca artikel detikhikmah, "Hadits Mujaddid yang Muncul Tiap 100 Tahun Sekali, Apa Maksudnya?" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6510504/hadits-mujaddid-yang-muncul-tiap-100-tahun-sekali-apa-maksudnya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
Sementara Cendekiawan Muslim Quraish Shihab dalam buku 1001 Soal Keislaman yang patut Anda Ketahui berpendapat, tugas mujaddid sebagai pembaru dibutuhkan mengingat perjalanan sejarah boleh jadi melupakan atau menyalahpahami ajaran agama. Selain itu, masyarakat menuntut adanya interpretasi baru yang tidak menyimpang dari prinsip dan teks-teks keagamaan.

"Sebagian dari apa yang kita namai ajaran agama adalah hasil interpretasi ulama yang tentunya dipengaruhi oleh kondisi sosial masyarakatnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), serta budaya lokal," terang dia.

Untuk itulah, mujaddid berperan untuk mereaktualisasi ajaran. Meski demikian, tidak mudah untuk menetapkan siapa orangnya pada tiap abadnya. Sebab, ada pula kemungkinan mujaddid tidak hanya satu orang melainkan ada beberapa orang dalam satu abad.

Di samping itu, kata Quraish Shihab, versi nama-nama mujaddid dari tiap abadnya pun dapat berbeda-beda. Salah satunya yang disebut Ibnu Katsir dalam Kitab Dala'il an Nubuwwah, mujaddid pada abad pertama Hijriah mencakup empat belas nama tokoh. Tidak hanya satu tokoh tiap abadnya.

Lain lagi dari Imam As Suyuthi yang pernah merinci nama-nama mujaddid dalam potongan syair gubahannya. Lalu, versi lainnya dapat ditemukan dari Nawab Shidiq Hasan Khan yang menulis Kitab Hujaj al Kiramah

Baca artikel detikhikmah, "Hadits Mujaddid yang Muncul Tiap 100 Tahun Sekali, Apa Maksudnya?" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6510504/hadits-mujaddid-yang-muncul-tiap-100-tahun-sekali-apa-maksudnya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
Sementara Cendekiawan Muslim Quraish Shihab dalam buku 1001 Soal Keislaman yang patut Anda Ketahui berpendapat, tugas mujaddid sebagai pembaru dibutuhkan mengingat perjalanan sejarah boleh jadi melupakan atau menyalahpahami ajaran agama. Selain itu, masyarakat menuntut adanya interpretasi baru yang tidak menyimpang dari prinsip dan teks-teks keagamaan.

"Sebagian dari apa yang kita namai ajaran agama adalah hasil interpretasi ulama yang tentunya dipengaruhi oleh kondisi sosial masyarakatnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), serta budaya lokal," terang dia.

Untuk itulah, mujaddid berperan untuk mereaktualisasi ajaran. Meski demikian, tidak mudah untuk menetapkan siapa orangnya pada tiap abadnya. Sebab, ada pula kemungkinan mujaddid tidak hanya satu orang melainkan ada beberapa orang dalam satu abad.

Di samping itu, kata Quraish Shihab, versi nama-nama mujaddid dari tiap abadnya pun dapat berbeda-beda. Salah satunya yang disebut Ibnu Katsir dalam Kitab Dala'il an Nubuwwah, mujaddid pada abad pertama Hijriah mencakup empat belas nama tokoh. Tidak hanya satu tokoh tiap abadnya.

Lain lagi dari Imam As Suyuthi yang pernah merinci nama-nama mujaddid dalam potongan syair gubahannya. Lalu, versi lainnya dapat ditemukan dari Nawab Shidiq Hasan Khan yang menulis Kitab Hujaj al Kiramah

Baca artikel detikhikmah, "Hadits Mujaddid yang Muncul Tiap 100 Tahun Sekali, Apa Maksudnya?" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6510504/hadits-mujaddid-yang-muncul-tiap-100-tahun-sekali-apa-maksudnya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
Sementara Cendekiawan Muslim Quraish Shihab dalam buku 1001 Soal Keislaman yang patut Anda Ketahui berpendapat, tugas mujaddid sebagai pembaru dibutuhkan mengingat perjalanan sejarah boleh jadi melupakan atau menyalahpahami ajaran agama. Selain itu, masyarakat menuntut adanya interpretasi baru yang tidak menyimpang dari prinsip dan teks-teks keagamaan.

"Sebagian dari apa yang kita namai ajaran agama adalah hasil interpretasi ulama yang tentunya dipengaruhi oleh kondisi sosial masyarakatnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), serta budaya lokal," terang dia.

Untuk itulah, mujaddid berperan untuk mereaktualisasi ajaran. Meski demikian, tidak mudah untuk menetapkan siapa orangnya pada tiap abadnya. Sebab, ada pula kemungkinan mujaddid tidak hanya satu orang melainkan ada beberapa orang dalam satu abad.

Di samping itu, kata Quraish Shihab, versi nama-nama mujaddid dari tiap abadnya pun dapat berbeda-beda. Salah satunya yang disebut Ibnu Katsir dalam Kitab Dala'il an Nubuwwah, mujaddid pada abad pertama Hijriah mencakup empat belas nama tokoh. Tidak hanya satu tokoh tiap abadnya.

Lain lagi dari Imam As Suyuthi yang pernah merinci nama-nama mujaddid dalam potongan syair gubahannya. Lalu, versi lainnya dapat ditemukan dari Nawab Shidiq Hasan Khan yang menulis Kitab Hujaj al Kiramah

Baca artikel detikhikmah, "Hadits Mujaddid yang Muncul Tiap 100 Tahun Sekali, Apa Maksudnya?" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6510504/hadits-mujaddid-yang-muncul-tiap-100-tahun-sekali-apa-maksudnya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
Sementara Cendekiawan Muslim Quraish Shihab dalam buku 1001 Soal Keislaman yang patut Anda Ketahui berpendapat, tugas mujaddid sebagai pembaru dibutuhkan mengingat perjalanan sejarah boleh jadi melupakan atau menyalahpahami ajaran agama. Selain itu, masyarakat menuntut adanya interpretasi baru yang tidak menyimpang dari prinsip dan teks-teks keagamaan.

"Sebagian dari apa yang kita namai ajaran agama adalah hasil interpretasi ulama yang tentunya dipengaruhi oleh kondisi sosial masyarakatnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), serta budaya lokal," terang dia.

Untuk itulah, mujaddid berperan untuk mereaktualisasi ajaran. Meski demikian, tidak mudah untuk menetapkan siapa orangnya pada tiap abadnya. Sebab, ada pula kemungkinan mujaddid tidak hanya satu orang melainkan ada beberapa orang dalam satu abad.

Di samping itu, kata Quraish Shihab, versi nama-nama mujaddid dari tiap abadnya pun dapat berbeda-beda. Salah satunya yang disebut Ibnu Katsir dalam Kitab Dala'il an Nubuwwah, mujaddid pada abad pertama Hijriah mencakup empat belas nama tokoh. Tidak hanya satu tokoh tiap abadnya.

Lain lagi dari Imam As Suyuthi yang pernah merinci nama-nama mujaddid dalam potongan syair gubahannya. Lalu, versi lainnya dapat ditemukan dari Nawab Shidiq Hasan Khan yang menulis Kitab Hujaj al Kiramah

Baca artikel detikhikmah, "Hadits Mujaddid yang Muncul Tiap 100 Tahun Sekali, Apa Maksudnya?" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6510504/hadits-mujaddid-yang-muncul-tiap-100-tahun-sekali-apa-maksudnya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
Sementara Cendekiawan Muslim Quraish Shihab dalam buku 1001 Soal Keislaman yang patut Anda Ketahui berpendapat, tugas mujaddid sebagai pembaru dibutuhkan mengingat perjalanan sejarah boleh jadi melupakan atau menyalahpahami ajaran agama. Selain itu, masyarakat menuntut adanya interpretasi baru yang tidak menyimpang dari prinsip dan teks-teks keagamaan.

"Sebagian dari apa yang kita namai ajaran agama adalah hasil interpretasi ulama yang tentunya dipengaruhi oleh kondisi sosial masyarakatnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), serta budaya lokal," terang dia.

Untuk itulah, mujaddid berperan untuk mereaktualisasi ajaran. Meski demikian, tidak mudah untuk menetapkan siapa orangnya pada tiap abadnya. Sebab, ada pula kemungkinan mujaddid tidak hanya satu orang melainkan ada beberapa orang dalam satu abad.

Di samping itu, kata Quraish Shihab, versi nama-nama mujaddid dari tiap abadnya pun dapat berbeda-beda. Salah satunya yang disebut Ibnu Katsir dalam Kitab Dala'il an Nubuwwah, mujaddid pada abad pertama Hijriah mencakup empat belas nama tokoh. Tidak hanya satu tokoh tiap abadnya.

Lain lagi dari Imam As Suyuthi yang pernah merinci nama-nama mujaddid dalam potongan syair gubahannya. Lalu, versi lainnya dapat ditemukan dari Nawab Shidiq Hasan Khan yang menulis Kitab Hujaj al Kiramah.

Baca artikel detikhikmah, "Hadits Mujaddid yang Muncul Tiap 100 Tahun Sekali, Apa Maksudnya?" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6510504/hadits-mujaddid-yang-muncul-tiap-100-tahun-sekali-apa-maksudnya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Baca artikel detikhikmah, "Hadits Mujaddid yang Muncul Tiap 100 Tahun Sekali, Apa Maksudnya?" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6510504/hadits-mujaddid-yang-muncul-tiap-100-tahun-sekali-apa-maksudnya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Baca artikel detikhikmah, "Hadits Mujaddid yang Muncul Tiap 100 Tahun Sekali, Apa Maksudnya?" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6510504/hadits-mujaddid-yang-muncul-tiap-100-tahun-sekali-apa-maksudnya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
 
Ada satu perkara yang menarik dari hadits yang pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW. Isi haditsnya menyebutkan tentang kemunculan mujaddid untuk umat Islam pada tiap seratus tahun sekali atau satu abad.

Hadits itu bersumber dari Abu Hurairah RA yang meriwayatkan sabda Rasulullah SAW sebagai berikut,

إنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهذهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا

Baca artikel detikhikmah, "Hadits Mujaddid yang Muncul Tiap 100 Tahun Sekali, Apa Maksudnya?" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6510504/hadits-mujaddid-yang-muncul-tiap-100-tahun-sekali-apa-maksudnya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Baca artikel detikhikmah, "Hadits Mujaddid yang Muncul Tiap 100 Tahun Sekali, Apa Maksudnya?" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6510504/hadits-mujaddid-yang-muncul-tiap-100-tahun-sekali-apa-maksudnya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Baca artikel detikhikmah, "Hadits Mujaddid yang Muncul Tiap 100 Tahun Sekali, Apa Maksudnya?" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6510504/hadits-mujaddid-yang-muncul-tiap-100-tahun-sekali-apa-maksudnya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Baca artikel detikhikmah, "Hadits Mujaddid yang Muncul Tiap 100 Tahun Sekali, Apa Maksudnya?" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6510504/hadits-mujaddid-yang-muncul-tiap-100-tahun-sekali-apa-maksudnya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Baca artikel detikhikmah, "Hadits Mujaddid yang Muncul Tiap 100 Tahun Sekali, Apa Maksudnya?" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6510504/hadits-mujaddid-yang-muncul-tiap-100-tahun-sekali-apa-maksudnya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
Ada satu perkara yang menarik dari hadits yang pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW. Isi haditsnya menyebutkan tentang kemunculan mujaddid untuk umat Islam pada tiap seratus tahun sekali atau satu abad.

Hadits itu bersumber dari Abu Hurairah RA yang meriwayatkan sabda Rasulullah SAW sebagai berikut,

إنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهذهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا

Baca artikel detikhikmah, "Hadits Mujaddid yang Muncul Tiap 100 Tahun Sekali, Apa Maksudnya?" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6510504/hadits-mujaddid-yang-muncul-tiap-100-tahun-sekali-apa-maksudnya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Baca artikel detikhikmah, "Hadits Mujaddid yang Muncul Tiap 100 Tahun Sekali, Apa Maksudnya?" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6510504/hadits-mujaddid-yang-muncul-tiap-100-tahun-sekali-apa-maksudnya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Baca artikel detikhikmah, "Hadits Mujaddid yang Muncul Tiap 100 Tahun Sekali, Apa Maksudnya?" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6510504/hadits-mujaddid-yang-muncul-tiap-100-tahun-sekali-apa-maksudnya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Baca artikel detikhikmah, "Hadits Mujaddid yang Muncul Tiap 100 Tahun Sekali, Apa Maksudnya?" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6510504/hadits-mujaddid-yang-muncul-tiap-100-tahun-sekali-apa-maksudnya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Baca artikel detikhikmah, "Hadits Mujaddid yang Muncul Tiap 100 Tahun Sekali, Apa Maksudnya?" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-6510504/hadits-mujaddid-yang-muncul-tiap-100-tahun-sekali-apa-maksudnya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Sejarah Puasa

  Sejarah Puasa Zaman Nabi Muhammad ﷺ Puasa dalam Islam mencapai bentuk sempurnanya di zaman Nabi Muhammad ﷺ. Awalnya, puasa dilakukan denga...

POPULER