Sejarah Puasa Zaman Nabi Muhammad ﷺ
Puasa dalam Islam mencapai bentuk sempurnanya di zaman Nabi Muhammad ﷺ. Awalnya, puasa dilakukan dengan cara yang berbeda, tetapi setelah turunnya perintah puasa Ramadan, ibadah ini menjadi rukun Islam yang wajib bagi umat Muslim.
---
1. Puasa Sebelum Diwajibkan Ramadan
Sebelum perintah puasa Ramadan turun, umat Islam sudah memiliki beberapa bentuk puasa, yang diambil dari tradisi sebelumnya atau dilakukan atas perintah Nabi Muhammad ﷺ.
a. Puasa Asyura (10 Muharram)
Sebelum puasa Ramadan diwajibkan, puasa Asyura adalah puasa utama yang dilakukan oleh kaum Muslimin.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ dan kaum Quraisy sudah berpuasa pada hari Asyura sebelum hijrah ke Madinah.
Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau melihat orang Yahudi juga berpuasa pada hari Asyura. Ketika ditanya alasannya, mereka menjawab:
"Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil dari Fir'aun, maka Nabi Musa berpuasa sebagai bentuk syukur."
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Kami lebih berhak terhadap Musa daripada mereka." (HR. Bukhari & Muslim)
Kemudian, beliau memerintahkan umat Islam untuk berpuasa pada hari Asyura.
Setelah puasa Ramadan diwajibkan, puasa Asyura menjadi sunnah dan Rasulullah ﷺ menganjurkan untuk berpuasa juga pada tanggal 9 atau 11 Muharram agar berbeda dari kaum Yahudi.
Sumber: https://banten.nu.or.id/keislaman/puasa-asyura-peristiwa-penting-dan-anjuran-dzikir-tevHZ
___
Download NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap! https://nu.or.id/superapp (Android/iOS)
Sumber: https://banten.nu.or.id/keislaman/puasa-asyura-peristiwa-penting-dan-anjuran-dzikir-tevHZ
___
Download NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap! https://nu.or.id/superapp (Android/iOS)
b. Puasa Nabi Muhammad ﷺ Sebelum Ramadan
Nabi Muhammad ﷺ juga berpuasa tiga hari setiap bulan, yaitu Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, 15 Hijriyah).
Puasa ini adalah sunnah yang dianjurkan dan masih dilakukan oleh umat Islam hingga sekarang.
---
2. Diwajibkannya Puasa Ramadan
a. Perintah Puasa Ramadan Turun di Tahun ke-2 Hijriyah
Perintah puasa Ramadan turun dalam Surah Al-Baqarah ayat 183-185:
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
(QS. Al-Baqarah: 183)
Awalnya, umat Islam diberikan pilihan antara berpuasa atau membayar fidyah (memberi makan orang miskin).
Kemudian, aturan ini diubah, dan puasa Ramadan menjadi wajib bagi setiap Muslim yang mampu.
b. Perubahan Tata Cara Puasa
Pada awalnya, umat Islam hanya boleh makan dan minum sampai mereka tidur setelah berbuka. Jika mereka tertidur, maka tidak boleh makan lagi sampai malam berikutnya.
Kemudian, Allah memberikan keringanan, sehingga umat Islam boleh makan dan minum sampai waktu fajar:
"Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu... dan makan serta minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar."
(QS. Al-Baqarah: 187)
Aturan ini menjadikan puasa lebih mudah dijalankan oleh umat Islam.
---
3. Puasa di Masa Nabi Muhammad ﷺ
Setelah puasa Ramadan diwajibkan, Rasulullah ﷺ dan para sahabat melaksanakan ibadah ini dengan penuh keimanan. Beberapa praktik puasa di zaman beliau:
a. Puasa di Bulan Ramadan
Rasulullah ﷺ sangat menekankan niat sebelum fajar dan sahur, sebagaimana dalam hadis:
"Bersahurlah kalian, karena dalam sahur ada keberkahan." (HR. Bukhari & Muslim)
Berbuka puasa dianjurkan untuk dilakukan segera setelah matahari terbenam, dengan makanan ringan seperti kurma atau air.
Beliau juga menekankan pentingnya menahan diri dari perbuatan buruk, bukan hanya dari makan dan minum.
b. Puasa Sunnah
Selain Ramadan, Nabi Muhammad ﷺ juga sering melakukan puasa sunnah, seperti:
1. Puasa Senin-Kamis (karena hari Senin adalah hari kelahirannya dan amal diangkat pada hari itu).
2. Puasa Ayyamul Bidh (13, 14, 15 Hijriyah) setiap bulan.
Abu Dzar menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda padanya bahwa:
يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ
Artinya: "Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah)" (HR. Tirmidzi no. 761 dan An Nasa'i no. 2425. Abu 'Isa Tirmidzi mengatakan bahwa haditsnya hasan)
3. Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadan.
4. Puasa di bulan Sya’ban (sering dilakukan oleh Rasulullah).
5. Puasa Nabi Dawud (sehari puasa, sehari tidak).
---
4. Puasa dalam Perang dan Keadaan Sulit
a. Puasa di Perang Badar (Tahun ke-2 Hijriyah)
Perang Badar terjadi pada bulan Ramadan, menunjukkan bahwa umat Islam tetap berpuasa meskipun dalam kondisi sulit.
Namun, dalam Islam, orang yang dalam perjalanan atau sakit diperbolehkan untuk tidak berpuasa dan menggantinya di hari lain.
b. Fathu Makkah (Tahun ke-8 Hijriyah)
Ketika Rasulullah ﷺ dan pasukannya menuju Makkah untuk Fathu Makkah, mereka dalam kondisi safar.
Rasulullah ﷺ awalnya berpuasa, tetapi ketika mengetahui bahwa banyak sahabat merasa berat, beliau berbuka sebagai contoh bahwa dalam perjalanan, boleh berbuka.
---
5. Puasa di Akhir Hayat Rasulullah ﷺ
Di tahun terakhir kehidupannya, Rasulullah ﷺ berpuasa Ramadan seperti biasa.
Beliau juga sering melakukan puasa sunnah, terutama di bulan Sya’ban sebagai persiapan Ramadan.
Ramadan tahun ke-10 Hijriyah adalah Ramadan terakhir Rasulullah ﷺ sebelum beliau wafat pada Rabi’ul Awwal tahun berikutnya.
---
Kesimpulan
1. Sebelum diwajibkannya Ramadan, umat Islam berpuasa Asyura dan puasa sunnah lainnya.
2. Pada tahun ke-2 Hijriyah, puasa Ramadan diwajibkan dan menjadi rukun Islam.
3. Aturan puasa mengalami perubahan, termasuk kemudahan makan sahur dan berbuka hingga fajar.
4. Rasulullah ﷺ mencontohkan berbagai puasa sunnah, seperti Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, dan Syawal.
5. Puasa tetap dijalankan dalam kondisi sulit, seperti perang, tetapi ada keringanan bagi yang sakit atau dalam perjalanan.
6. Puasa di zaman Nabi Muhammad ﷺ menjadi sistem ibadah yang lebih sempurna dan terstruktur, berbeda dari puasa umat sebelumnya.
Sejak saat itu, puasa Ramadan menjadi ibadah utama dalam Islam dan terus dijalankan oleh umat Muslim hingga sekarang.
Apakah Umat Terdahulu Mengerjakan Puasa Ramadan? (Tafsir Ulama)
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, Allah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
(QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menunjukkan bahwa puasa bukanlah ibadah yang hanya diwajibkan kepada umat Islam, tetapi juga telah diperintahkan kepada umat-umat terdahulu. Namun, apakah yang dimaksud adalah puasa Ramadan atau bentuk puasa lainnya?
Pendapat Ulama tentang Puasa Ramadan bagi Umat Terdahulu
1. Pendapat yang Menyatakan Umat Terdahulu Berpuasa Ramadan
Sebagian ulama berpendapat bahwa puasa Ramadan juga diwajibkan atas umat terdahulu, tetapi aturannya mungkin berbeda.
-
Al-Qurthubi (Tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an):
"Allah mewajibkan puasa kepada umat Islam sebagaimana kepada umat terdahulu, baik dalam jumlah hari maupun kewajibannya. Namun, mereka mengubah aturan dan waktunya."
-
Ibnu Katsir (Tafsir Al-Qur'an Al-'Azim):
"Yang dimaksud dalam ayat ini adalah bahwa puasa sudah dikenal sejak zaman nabi-nabi sebelumnya, dan sebagian mereka juga berpuasa selama satu bulan penuh."
-
Imam As-Sa’di (Tafsir As-Sa’di):
"Sebagaimana Allah mewajibkan puasa kepada umat-umat sebelumnya, maka itu menunjukkan bahwa puasa adalah ibadah yang sangat utama, bahkan telah diwajibkan sejak zaman dahulu."
Berdasarkan tafsir ini, ada kemungkinan bahwa umat terdahulu juga diperintahkan berpuasa selama satu bulan penuh, tetapi dengan aturan yang berbeda dari Islam.
2. Pendapat yang Menyatakan Umat Terdahulu Tidak Berpuasa Ramadan
Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa umat terdahulu berpuasa, tetapi bukan dalam bentuk Ramadan seperti dalam Islam.
-
Ibnu Jarir Ath-Thabari (Tafsir Ath-Thabari):
"Yang dimaksud dengan puasa dalam ayat ini adalah puasa secara umum, bukan puasa Ramadan secara spesifik. Karena umat sebelum Islam tidak memiliki aturan yang sama dalam menentukan bulan puasa."
-
Asy-Syaukani (Fathul Qadir):
"Puasa diwajibkan kepada umat terdahulu, tetapi dengan jumlah hari yang berbeda, atau bentuk puasa yang berbeda."
Pendapat ini menguatkan bahwa puasa memang diwajibkan kepada umat terdahulu, tetapi aturan dan waktunya berbeda dari puasa Ramadan dalam Islam.
Perbedaan Puasa Umat Terdahulu dengan Puasa Ramadan dalam Islam
Kesimpulan
- Puasa sudah ada sejak zaman umat terdahulu, tetapi tidak ada bukti yang jelas bahwa mereka berpuasa Ramadan seperti umat Islam sekarang.
- Sebagian ulama seperti Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi menyatakan bahwa umat terdahulu juga diwajibkan berpuasa selama satu bulan, tetapi mereka mengubah aturan puasa tersebut.
- Ulama lain seperti Ath-Thabari dan Asy-Syaukani berpendapat bahwa umat terdahulu memang berpuasa, tetapi bentuk dan aturannya berbeda dari puasa Ramadan dalam Islam.
- Yang jelas, puasa Ramadan sebagai ibadah yang terstruktur dan wajib selama satu bulan penuh hanya diwajibkan bagi umat Nabi Muhammad ﷺ.
Puasa sudah dikenal sejak zaman Nabi Adam dan umat-umat sebelum Nabi Nuh. Dalam berbagai riwayat dan sumber Islam, puasa bukanlah ibadah yang baru, melainkan telah dilakukan oleh para nabi terdahulu sebagai bentuk ibadah, pembersihan jiwa, dan pendekatan diri kepada Allah.
1. Puasa pada Zaman Nabi Adam
Menurut beberapa ulama tafsir, Nabi Adam berpuasa sebagai bentuk tobat kepada Allah setelah diturunkan ke bumi akibat kesalahannya memakan buah terlarang di surga.
- Kisah pertobatan Nabi Adam dikisahkan dalam hadis Nabi riwayat At-Tirmidzi.
- Nabi Adam berpuasa selama tiga hari tiap bulan sepanjang tahun.
- Dalam riwayat lain Nabi Adam berpuasa tiap tanggal 10 Muharram.
Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Adam berpuasa tiga hari setiap bulan (Ayyamul Bidh: 13, 14, 15 bulan hijriyah) sebagai bentuk ibadah dan pengampunan dosa.
Riwayat Ibnu Abbas
- Nabi Adam diturunkan ke bumi dalam keadaan terbakar matahari sehingga tubuhnya menjadi hitam.
- Allah mewahyukan kepadanya untuk berpuasa selama tiga hari (tanggal 13, 14, 15).
- Pada hari pertama, sepertiga badannya menjadi putih.
- Pada hari kedua, sepertiga badannya lagi menjadi putih.
- Pada hari ketiga, sepertiga sisanya menjadi putih.
ثُمَّ سَبَبُ التَّسْمِيَةِ بِأَيَّامِ الْبِيضِ مَا رُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ إِنَّمَا سُمِيَتْ بِأَيَّامِ الْبِيضِ لِأَنَّ آدَمَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَمَّا أُهْبِطَ إِلَى الْأَرْضِ أَحْرَقَتْهُ الشَّمْسُ فَاسْوَدَّ فَأَوْحَى اللهُ تَعَالَى إِلَيْهِ أَنْ صُمْ أَيَّامَ الْبِيضِ فَصَامَ أَوَّلَ يَوْمٍ فَأبْيَضَّ ثُلُثُ جَسَدِهِ فَلَمَّا صَامَ الْيَوْمَ الثَّانِيَّ اِبْيَضَّ ثُلُثُ جَسَدِهِ فَلَمَّا صَامَ الْيَوْمَ الثَّالِثَ اِبْيَضَّ جَسَدُهُ كُلُّهُ
Artinya: "Sebab dinamai 'Ayyamul Bidh' adalah riwayat Ibnu Abbas RA, dinamai Ayyamul Bidh karena ketika Nabi Adam AS diturunkan ke muka bumi, matahari membakarnya sehingga tubuhnya menjadi hitam. Allah SWT kemudian mewahyukan kepadanya untuk berpuasa pada Ayyamul Bidh (hari-hari putih), 'Berpuasalah engkau pada hari-hari putih (Ayyamul Bidh)'. Lantas Nabi Adam AS pun melakukan puasa pada hari pertama, maka sepertiga anggota tubuhnya menjadi putih. Ketika beliau melakukan puasa pada hari kedua, sepertiga anggota yang lain menjadi putih. Dan pada hari ketiga, sisa sepertiga anggota badannya yang lain menjadi putih."
"Pendapat lain menyatakan, hari itu dinamai Ayyamul Bidh karena malam-malam tersebut terang benderang oleh rembulan dan rembulan selalu menampakkan wajahnya mulai matahari tenggelam sampai terbit kembali di Bumi. Karenanya malam dan siang pada saat itu menjadi putih (terang)." (Lihat Badruddin Al-'Aini Al-Hanafi, 'Umdatul Qari` Syarhu Shahihil Bukhari, juz XVII, halaman 80)
Beberapa ulama juga menyebutkan bahwa Nabi Adam berpuasa pada hari-hari tertentu sebagai tanda syukur kepada Allah atas karunia-Nya.
2. Puasa Umat Sebelum Nabi Nuh
Tidak banyak informasi rinci tentang puasa umat sebelum Nabi Nuh, tetapi karena mereka adalah keturunan Nabi Adam, kemungkinan mereka juga menjalankan ibadah puasa sebagaimana diajarkan oleh para nabi sebelumnya.
Beberapa riwayat menyebutkan bahwa orang-orang saleh sebelum Nabi Nuh juga memiliki tradisi puasa untuk mendekatkan diri kepada Allah dan membersihkan jiwa mereka.
Pada masa ini, puasa bisa dilakukan sebagai cara untuk memohon hujan, menghindari bencana, atau menunjukkan ketaatan kepada Allah.
Kesimpulan
Puasa sudah ada sejak zaman Nabi Adam, yang dilakukan untuk bertaubat dan mendekatkan diri kepada Allah. Tradisi ini terus berlanjut hingga umat-umat setelahnya, termasuk sebelum Nabi Nuh, yang juga melaksanakan puasa dalam berbagai bentuk, meskipun aturan dan praktiknya mungkin berbeda dengan puasa dalam Islam saat ini.
Sejarah puasa kaum Nabi Nuh tidak banyak dijelaskan secara rinci dalam Al-Qur'an maupun hadis sahih. Namun, berdasarkan beberapa riwayat dan sumber sejarah Islam, ada beberapa informasi terkait praktik puasa pada zaman Nabi Nuh:
1. Puasa Kaum Nabi Nuh
Umat Nabi Nuh diyakini telah menjalankan puasa sebagai bagian dari ibadah mereka kepada Allah.
Puasa ini dilakukan sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah atas keselamatan mereka dari azab, khususnya setelah peristiwa banjir besar yang menenggelamkan kaum yang menolak ajaran Nabi Nuh.
Ada juga yang menyebutkan bahwa puasa dilakukan untuk memohon pertolongan kepada Allah saat menghadapi ujian besar.
2. Berapa Hari Puasa Kaum Nabi Nuh?
Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Nabi Nuh dan para pengikutnya yang selamat di kapal berpuasa tiga hari berturut-turut setelah mereka mendarat di daratan sebagai bentuk syukur kepada Allah.
Ada juga riwayat yang mengatakan bahwa Nabi Nuh berpuasa 10 Muharram (Asyura) sebagai bentuk syukur atas selamatnya perahu dari banjir besar, sebagaimana juga dilakukan oleh Nabi Musa setelah selamat dari Fir'aun.
Meskipun tidak ada kepastian yang mutlak dalam sumber Islam mengenai jumlah hari puasanya, yang jelas adalah puasa sudah menjadi bagian dari ibadah umat terdahulu sebelum Islam, termasuk pada zaman Nabi Nuh.
Sejarah Puasa Umat Nabi Ibrahim
Puasa telah menjadi bagian dari ibadah sejak zaman Nabi Adam dan terus berlanjut hingga umat Nabi Ibrahim. Meskipun Al-Qur'an dan hadis tidak secara langsung menjelaskan tentang aturan puasa pada masa Nabi Ibrahim, beberapa riwayat dan kajian sejarah menyebutkan bahwa umatnya juga menjalankan puasa sebagai bentuk ibadah kepada Allah.
1. Tujuan dan Makna Puasa pada Umat Nabi Ibrahim
Puasa pada masa Nabi Ibrahim diyakini memiliki beberapa tujuan utama:
Sebagai bentuk ibadah dan ketakwaan kepada Allah.
Sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Allah.
Sebagai persiapan spiritual, terutama dalam menghadapi ujian berat, seperti perintah penyembelihan Nabi Ismail.
Sebagai bentuk tobat, mengikuti jejak para nabi sebelumnya yang berpuasa untuk memohon ampunan Allah.
2. Berapa Hari Puasa Umat Nabi Ibrahim?
Tidak ada jumlah hari yang pasti dalam sumber utama Islam, tetapi beberapa riwayat menyebutkan kemungkinan:
Nabi Ibrahim dan pengikutnya berpuasa tiga hari setiap bulan (Ayyamul Bidh: tanggal 13, 14, dan 15 bulan hijriyah), seperti yang dilakukan oleh Nabi Adam dan umat-umat setelahnya.
Ada juga yang menyebutkan bahwa puasa dilakukan dalam momen-momen tertentu, seperti saat meminta pertolongan kepada Allah atau dalam situasi penting dalam kehidupan mereka.
3. Aturan dan Praktik Puasa pada Masa Nabi Ibrahim
Tidak ada aturan baku seperti dalam Islam, tetapi puasa tetap dilakukan sebagai bentuk ibadah dan pendekatan diri kepada Allah.
Puasa bisa berarti menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga bisa mencakup menjaga diri dari perkataan dan perbuatan buruk.
Kemungkinan besar, puasa dimulai sejak pagi hingga waktu tertentu di sore atau malam hari.
Kesimpulan
Puasa pada masa Nabi Ibrahim tidak seketat atau sejelas aturan dalam Islam saat ini, tetapi tetap menjadi bagian dari ibadah umatnya. Praktik puasa yang dilakukan bisa dalam bentuk puasa sunnah tiga hari setiap bulan atau dalam momen-momen tertentu sebagai bentuk syukur dan ketakwaan kepada Allah.
Sejarah Puasa Zaman Nabi Ya’kub dan Generasi Setelahnya (Bani Israil)
Puasa telah menjadi bagian dari ibadah umat manusia sejak zaman Nabi Adam. Nabi Ya’kub (Israel) dan keturunannya (Bani Israil) juga memiliki praktik puasa yang berkembang dalam berbagai bentuk dan tujuan.
---
1. Puasa pada Zaman Nabi Ya’kub
Meskipun tidak ada informasi rinci dalam Al-Qur’an atau hadis sahih tentang aturan puasa pada masa Nabi Ya’kub, ada beberapa riwayat dan sumber sejarah yang menyebutkan bahwa:
Puasa dilakukan sebagai bentuk tobat dan doa kepada Allah, terutama dalam situasi sulit atau sebagai ungkapan syukur.
Nabi Ya’kub dikisahkan banyak beribadah dan berdoa dengan menangis ketika kehilangan putranya, Nabi Yusuf. Ada kemungkinan beliau melakukan puasa dalam periode ini.
Puasa tiga hari setiap bulan (Ayyamul Bidh: 13, 14, 15 bulan hijriyah) diduga menjadi kebiasaan umat terdahulu, termasuk Nabi Ya’kub.
Nabi
Ya'qub as, terkenal sebagai orang tua dan rasul yang gemar berpuasa,
terutama untuk keselamatan putra-putranya. Sementara, Nabi Yusuf as
berpuasa ketika berada dalam penjara bersama para terhukum lainnya.
Kebiasaan berpuasa ini juga beliau terapkan ketika menjadi seorang
pembesar Mesir, yakni sebagai menteri perekonomian negeri tersebut.
"Karena aku khawatir apabila aku kenyang, nanti aku akan melupakan perut
fakir miskin," ujar Nabi Yusuf.
Nabi Ayub as berpuasa pada waktu hidup dalam serba kekurangan dan menderita penyakit selama bertahun-tahun, sampai akhirnya lepas dari cobaan itu.
Nabi Syuaib terkenal kesalehannya dan sebagai orang tua yang banyak melakukan puasa dalam rangka bertakwa kepada Allah, di samping dalam rangka hidup sederhana dan untuk kelestarian generasi sesudahnya.
---
2. Puasa Bani Israil (Generasi Setelah Nabi Ya’kub)
Setelah Nabi Ya’kub, umatnya (Bani Israil) melanjutkan tradisi puasa dengan berbagai bentuk dan tujuan. Beberapa jenis puasa yang mereka lakukan antara lain:
a. Puasa sebagai Bentuk Tobat (Yom Kippur)
Hari Raya Yom Kippur adalah puasa utama dalam tradisi Bani Israil.
Ini adalah hari penebusan dosa, di mana mereka berpuasa selama sekitar 25 jam dari matahari terbenam hingga malam berikutnya.
Puasa ini dilakukan untuk meminta ampun kepada Allah atas dosa-dosa mereka.
b. Puasa Asyura (10 Muharram)
Diriwayatkan dalam hadis sahih bahwa Nabi Musa dan umatnya berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram) sebagai bentuk syukur atas keselamatan mereka dari Fir’aun.
Puasa ini juga dilakukan oleh orang Yahudi pada masa Nabi Muhammad ﷺ, hingga akhirnya Nabi Muhammad menganjurkan umat Islam untuk berpuasa pada hari Asyura dengan tambahan satu hari sebelum atau sesudahnya agar berbeda dari praktik Yahudi.
c. Puasa Nazar dan Keadaan Khusus
Dalam beberapa kisah, umat Bani Israil berpuasa ketika mereka ingin memohon sesuatu kepada Allah atau dalam situasi sulit.
Misalnya, dalam kisah Nabi Zakariya, ada bentuk puasa diam (shaum sukut) di mana beliau menahan diri dari berbicara sebagai tanda ketaatan kepada Allah.
---
3. Perbedaan Puasa Bani Israil dengan Puasa dalam Islam
---
Kesimpulan
Puasa sudah ada dalam ajaran Nabi Ya’kub dan diteruskan oleh Bani Israil dalam berbagai bentuk, seperti puasa Yom Kippur (penebusan dosa), Asyura (syukur atas keselamatan Nabi Musa), dan puasa dalam keadaan khusus. Namun, aturan dan praktiknya berbeda dari puasa dalam Islam, yang memiliki sistem yang lebih terstruktur, terutama dengan diwajibkannya puasa Ramadan bagi umat Nabi Muhammad ﷺ.
Sejarah Puasa Zaman Nabi Musa dan Generasi Setelahnya (Bani Israil)
Puasa telah menjadi bagian dari ibadah Bani Israil sejak zaman Nabi Musa. Beberapa puasa yang dikenal pada masa itu memiliki makna spiritual yang kuat, baik sebagai bentuk tobat, syukur, maupun ibadah rutin.
---
1. Puasa Nabi Musa
a. Puasa Nabi Musa di Gunung Sinai (40 Hari)
Dalam Al-Qur'an, disebutkan bahwa Nabi Musa berpuasa selama 40 hari sebelum menerima wahyu dari Allah di Gunung Sinai.
"Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) selama tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam..."
(QS. Al-A'raf: 142)
Dalam periode ini, Nabi Musa tidak makan dan tidak minum, menunjukkan bentuk puasa yang sangat berat.
Puasa ini dilakukan sebagai bentuk persiapan spiritual sebelum menerima Taurat, kitab suci bagi Bani Israil.
---
b. Puasa Hari Asyura (10 Muharram)
Hari Asyura (10 Muharram) adalah hari ketika Nabi Musa dan Bani Israil diselamatkan dari Fir’aun saat menyeberangi Laut Merah.
Diriwayatkan bahwa Nabi Musa berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk syukur kepada Allah atas keselamatan mereka.
Puasa ini masih dilakukan oleh orang Yahudi hingga zaman Nabi Muhammad. Ketika Rasulullah tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura, lalu beliau bersabda:
"Kami lebih berhak terhadap Musa daripada mereka." (HR. Bukhari & Muslim)
Kemudian, Rasulullah menganjurkan umat Islam untuk berpuasa pada hari Asyura, dengan tambahan sehari sebelum atau setelahnya (9 dan 11 Muharram) agar berbeda dari kaum Yahudi.
---
2. Puasa Bani Israil Setelah Nabi Musa
Setelah Nabi Musa, Bani Israil meneruskan berbagai praktik puasa, beberapa di antaranya menjadi bagian dari ritual agama mereka:
a. Puasa Yom Kippur (Hari Penebusan Dosa)
Yom Kippur adalah puasa paling penting dalam agama Yahudi hingga saat ini.
Dilakukan sebagai bentuk penebusan dosa kepada Allah.
Berlangsung selama sekitar 25 jam (dari matahari terbenam hingga malam berikutnya), di mana mereka tidak makan, tidak minum, dan tidak melakukan pekerjaan tertentu.
Puasa ini didasarkan pada kitab Taurat, yang menyebutkan bahwa Allah akan mengampuni dosa mereka jika mereka sungguh-sungguh bertobat.
b. Puasa Nazar
Bani Israil juga memiliki konsep puasa nazar, di mana seseorang berpuasa karena telah bernazar atau berjanji kepada Allah.
Jika seseorang memohon sesuatu kepada Allah dan doanya dikabulkan, mereka harus menunaikan puasa sebagai bentuk syukur.
c. Puasa dalam Keadaan Darurat
Bani Israil terkadang melakukan puasa saat menghadapi bencana, perang, atau ketika membutuhkan pertolongan dari Allah.
Misalnya, dalam kitab-kitab Yahudi disebutkan bahwa Nabi Yunus menyeru penduduk Ninawa untuk bertobat dengan berpuasa, meskipun ini terjadi setelah Nabi Musa.
---
3. Perbedaan Puasa Bani Israil dengan Puasa dalam Islam
---
Kesimpulan
Puasa sudah menjadi bagian dari ibadah Bani Israil sejak zaman Nabi Musa. Nabi Musa sendiri berpuasa 40 hari sebelum menerima Taurat dan berpuasa pada hari Asyura sebagai bentuk syukur. Generasi setelahnya melanjutkan tradisi puasa dengan aturan mereka sendiri, seperti puasa Yom Kippur (penebusan dosa), nazar, dan puasa dalam keadaan darurat. Namun, puasa dalam Islam lebih terstruktur, terutama dengan diwajibkannya puasa Ramadan yang memiliki aturan lebih jelas dan lebih ringan dibandingkan beberapa puasa Bani Israil.
Sejarah Puasa Umat Nabi Dawud dan Berapa Hari Puasanya
Nabi Dawud (David) adalah salah satu nabi yang dikenal karena ketakwaannya yang luar biasa. Salah satu ibadah utama yang beliau lakukan adalah puasa Nabi Dawud, yang kemudian menjadi salah satu bentuk puasa sunnah dalam Islam.
---
1. Puasa Nabi Dawud
Puasa yang dilakukan oleh Nabi Dawud disebut dalam hadis sebagai puasa yang paling disukai oleh Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Puasa yang paling dicintai oleh Allah adalah puasa Nabi Dawud. Dia berpuasa satu hari dan berbuka satu hari."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dari hadis ini, kita mengetahui bahwa Nabi Dawud berpuasa selang-seling, yaitu sehari puasa dan sehari tidak sepanjang tahun.
---
2. Tujuan dan Makna Puasa Nabi Dawud
Puasa Nabi Dawud dilakukan dengan tujuan:
Meningkatkan ketakwaan kepada Allah melalui ibadah yang konsisten.
Menjaga keseimbangan antara ibadah dan kebutuhan fisik (karena tidak puasa terus-menerus).
Melatih kesabaran dan keikhlasan dalam ibadah.
Mencegah dari kesombongan dan mendekatkan diri kepada Allah.
---
3. Aturan dan Praktik Puasa Nabi Dawud
Puasa dilakukan setiap dua hari sekali (sehari puasa, sehari berbuka).
Puasa ini bersifat sunnah, bukan wajib, tetapi sangat dianjurkan karena dicintai oleh Allah.
Tidak terbatas pada hari tertentu, sehingga bisa dilakukan sepanjang tahun, kecuali pada hari-hari yang diharamkan untuk puasa (seperti Idul Fitri dan Idul Adha).
---
4. Perbedaan Puasa Nabi Dawud dengan Puasa Islam Lainnya
---
Kesimpulan
Puasa Nabi Dawud adalah salah satu bentuk puasa yang paling dicintai Allah karena menunjukkan keseimbangan antara ibadah dan kehidupan dunia. Nabi Dawud dan umatnya menjalankan puasa ini sebagai bentuk ketaatan, dengan pola sehari puasa, sehari berbuka. Puasa ini dianjurkan dalam Islam sebagai ibadah sunnah bagi yang mampu melakukannya.
Asal Mula Puasa Nabi Dawud
Puasa Nabi Dawud (sehari puasa, sehari berbuka) adalah salah satu bentuk ibadah yang paling dicintai oleh Allah. Meskipun tidak ada dalil spesifik dalam Al-Qur'an atau hadis yang menjelaskan asal mula Nabi Dawud menjalankan puasa ini, ada beberapa hikmah dan latar belakang yang bisa kita pahami dari kehidupannya.
---
1. Nabi Dawud adalah Hamba yang Sangat Taat dan Ahli Ibadah
Nabi Dawud adalah nabi yang dikenal sebagai raja yang adil dan hamba Allah yang sangat tekun dalam beribadah. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman:
"Bersabarlah atas apa yang mereka katakan, dan ingatlah hamba Kami, Dawud, yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia sangat taat (kepada Allah)."
(QS. Shad: 17)
Sifat ketaatan dan kesungguhan dalam beribadah ini yang membuatnya memilih puasa secara istimewa, yakni sehari puasa, sehari berbuka.
---
2. Menjaga Keseimbangan Antara Ibadah dan Kebutuhan Fisik
Nabi Dawud memiliki dua peran besar dalam hidupnya: sebagai nabi dan sebagai raja.
Puasa yang dijalankannya memungkinkan keseimbangan antara ketaatan kepada Allah dan kemampuannya menjalankan tugas sebagai pemimpin.
Jika beliau berpuasa terus-menerus, mungkin bisa melemahkan fisiknya. Tetapi jika terlalu banyak makan, bisa mengurangi kekhusyukan ibadah.
Pola puasa ini memungkinkan beliau tetap kuat secara fisik dan spiritual.
---
3. Mengalahkan Hawa Nafsu dan Melatih Kesabaran
Nabi Dawud adalah seorang pemimpin yang bijaksana, tetapi juga menghadapi banyak ujian dalam hidupnya.
Puasa sehari dan berbuka sehari melatih dirinya untuk menundukkan hawa nafsu tanpa membebani tubuh secara berlebihan.
Dalam Islam, puasa adalah cara efektif untuk mengendalikan diri, sebagaimana disebutkan dalam hadis:
"Puasa adalah perisai (pelindung dari maksiat)." (HR. Bukhari & Muslim)
---
4. Tradisi Ibadah Para Nabi Sebelumnya
Puasa bukanlah ibadah yang baru pada masa Nabi Dawud. Nabi-nabi sebelumnya seperti Nabi Adam, Nuh, dan Ibrahim juga berpuasa dalam berbagai bentuk.
Bisa jadi, Nabi Dawud mendapatkan wahyu atau petunjuk dari Allah untuk menjalankan pola puasa ini sebagai peningkatan ibadahnya dibandingkan dengan umat sebelumnya.
---
Kesimpulan
Nabi Dawud menjalankan puasa sehari puasa, sehari berbuka bukan karena perintah khusus, tetapi sebagai bentuk kesungguhan dalam ibadah dan kedekatan kepada Allah. Puasa ini membantunya menjaga keseimbangan antara ketaatan kepada Allah dan tugas duniawi, serta melatih kesabaran dan pengendalian hawa nafsu. Karena itulah, puasa ini menjadi puasa yang paling dicintai oleh Allah dan dianjurkan dalam Islam bagi mereka yang mampu melakukannya.
Adapun Nabi Yunus as berpuasa dari makan dan minum saat berada dalam perut ikan besar selama beberapa hari. Kemudian, beliau berbuka puasa setelah dimuntahkan dari dalam perut ikan itu. Untuk berbuka, dikisahkan, beliau memakan buah semacam labu yang Allah tumbuhkan untuknya di tepi pantai.
Sejarah Puasa Zaman Nabi Isa dan Kaum Nasrani
Puasa telah menjadi bagian dari ajaran para nabi, termasuk Nabi Isa (Yesus). Dalam ajaran yang dibawa Nabi Isa, puasa memiliki peran penting sebagai bentuk ibadah, penyucian diri, dan pendekatan kepada Allah. Kaum Nasrani (Kristen) juga meneruskan tradisi puasa dengan berbagai bentuk, meskipun banyak perubahannya seiring waktu.
---
1. Puasa Nabi Isa
Nabi Isa as mulai berpuasa ketika mulai tampil di muka umum untuk menyatakan dirinya sebagai rasul.
a. Puasa 40 Hari di Padang Gurun
Dalam Injil, disebutkan bahwa Nabi Isa berpuasa selama 40 hari dan 40 malam di padang gurun sebelum memulai dakwahnya:
"Kemudian Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Setelah berpuasa 40 hari dan 40 malam, akhirnya laparlah Ia."
(Matius 4:1-2)
Puasa ini mirip dengan puasa Nabi Musa di Gunung Sinai selama 40 hari.
Nabi Isa melakukannya sebagai bentuk persiapan spiritual sebelum menerima wahyu dan memulai dakwahnya.
Selama puasa ini, Iblis mencoba menggoda Nabi Isa, tetapi beliau tetap teguh dalam keimanan.
---
2. Puasa Kaum Nasrani Setelah Nabi Isa
Setelah Nabi Isa diangkat ke langit, para pengikutnya tetap melakukan puasa, meskipun aturan dan praktiknya mengalami perubahan seiring waktu.
a. Puasa Prapaskah (Lent)
Puasa utama dalam ajaran Kristen adalah Lent (Prapaskah), yang berlangsung selama 40 hari sebelum Hari Paskah.
Ini diyakini mengikuti jejak puasa Nabi Isa di padang gurun selama 40 hari.
Dalam tradisi Katolik, puasa ini biasanya berarti tidak makan daging pada hari-hari tertentu dan mengurangi konsumsi makanan secara umum.
b. Puasa Rabu Abu dan Jumat Agung
Rabu Abu adalah hari pertama Prapaskah, di mana umat Kristen mulai berpuasa dan bertobat.
Jumat Agung adalah hari untuk mengenang penyaliban Nabi Isa (menurut kepercayaan Kristen), dan biasanya dilakukan dengan puasa dan doa.
c. Puasa dalam Tradisi Kristen Awal
Dalam beberapa teks Kristen awal, disebutkan bahwa umat Nasrani berpuasa dua kali seminggu, yaitu pada hari Rabu dan Jumat, mirip dengan puasa sunnah Senin-Kamis dalam Islam.
Puasa ini dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan sebagai bentuk pengendalian diri.
---
3. Perbedaan Puasa Nabi Isa dan Puasa Kristen Sekarang
---
4. Puasa dalam Islam vs. Puasa dalam Kristen
---
Kesimpulan
Nabi Isa menjalankan puasa sebagai bentuk ibadah dan persiapan spiritual, terutama puasa 40 hari di padang gurun. Setelah beliau, kaum Nasrani meneruskan tradisi puasa, tetapi dengan berbagai perubahan, seperti puasa Prapaskah, Rabu Abu, dan Jumat Agung. Berbeda dengan Islam, puasa dalam Kristen lebih fleksibel dan seringkali hanya berupa pengurangan makanan, bukan menahan diri sepenuhnya dari makan dan minum seperti dalam puasa Ramadan.
Merujuk kepada riwayat Ibnu Abi Hatim dari Imam adh Dhohhak, yang dimaksud dari umat terdahulu adalah umat Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad Saw. Puasa dari pendapat ini, menurut beliau, pertama kali dipraktekkan oleh Nabi Nuh As. Konon kaifiyat puasa mereka yaitu dengan berpuasa tiga hari tiap bulannya, dimulai dari malam hingga tiba malam lagi. Puasa tersebut dimulai setelah mereka tidur. Jika pada malam hari mereka belum tidur, mereka diperbolehkan makan-minum dan melakukan berbagai aktifitas lainnya yang dilarang ketika puasa. Namun jika mereka telah tidur walaupun di sore hari dan terbangun pada malam harinya, mereka tetap tidak dibolehkan melakukan hal-hal tersebut, karena puasa mereka dimulai “ketika tidur”. Puasa seperti ini juga dipraktekkan oleh Rasulullah Saw. dan sahabat-sahabatnya pada awal masa Islam.
Pendapat kedua, maksud dari “umat terdahulu” adalah ahlul kitab, umat Yahudi dan Nasrani. Umat Yahudi dan Nasrani diwajibkan pula atas mereka puasa Ramadhan, prakteknya sama dengan puasa umat Islam saat ini, hanya saja yang membedakan puasa mereka dengan puasa umat Islam adalah makan sahur.
(قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : فصل ما بين صيامنا و صيام أهل الكتاب أكلة السحر (رواه مسلم
Perbedaan antara puasa kita dan puasa ahli kitab adalah makan sahur (HR. Muslim)
Walaupun diwajibkan atas mereka puasa Ramadhan, tetapi umat Yahudi dan Nasrani mengubah tatacaranya. Umat Yahudi setelah diwajibkan atas mereka puasa ramadhan, mereka tidak mengamalkannya. Mereka hanya melaksanakan puasa sehari tiap tahunnya, dimana mereka meyakini bahwa hari tersebut adalah hari kematian Fir’aun, padahal mereka telah berdusta akan hal itu karena hari yang mereka maksud adalah hari asyuro sesuai tuntunan Rasulullah Saw. Sedangkan umat Nasrani berpuasa ramadan dan menambah puasa mereka menjadi lima puluh hari. Pendapat ini dikemukakan Imam Arrazi dalam tafsirnya melalui riwayat Imam Hasan al-Bashri. Pendapat ini juga seperti yang diungkapkan oleh Qatadah, as-Sya’bi juga Mujahid, sebagaimana yang dikutip Imam Qurthubi dalam kitab tafsirnya.
Imam Thabrani meriwayatkan dari Ma’qil bin Handzalah, dari Nabi Saw. Berkata: bagi umat Nasrani kewajiban puasa ramadan, lalu raja mereka sakit, mereka berkata: seandainya Allah menyembuhkannya maka kami bernadzar akan menambah (puasa kami) sepuluh hari,lalu datang raja mereka yang lain sakit, mereka berkata: seandainya Allah menyembuhkannya maka kami akan menambah puasa kami tujuh hari. Dan ada dari mereka raja yang lain lagi, mereka mengatakan: tidaklah tiga hari ini meninggalkan apapun, maka kami menyempurnakannya dan kami jadikan puasa kami pada musim semi, lalu mereka kerjakan puasa tersebut menjadi lima puluh hari). Inilah makna dari ayat “dan mereka menjadikan pendeta-pendeta mereka tuhan selain Allah” (at-Taubah: 31).
Yassarollahu umronaa wa ja'alana minash shoimin wa yadkhulana Al Jannata min baab Ar-Royyaan.